Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Maret 2013

KEBENARAN DALAM PUISI

Oleh: Toriq Fahmi

"Puisi lebih mendekati kebenaran dibandingkan dengan sejarah" Plato
Puisi, bagi banyak orang adalah kearifan dalam tindak tutur yang melahirkan keinginan secara trasparan. Cinta, keadilan, sosial, alam dan juga budaya telah mendifinisikan sebuah puisi sebagai do’a para dewa yang ada pada diri setiap manusia sehingga disebut sebagai sebuah kebenaran. Puisi adalah kejujuran, sebuah do’a yang sebenarnya, do’a bukan berarti bagaimana seseorang itu meminta dan bersukur tapi do’a yang sebenarnya adalah bagaimana seseorang  bisa mengeluarkan hal-hal yang paling intim dalam dirinya. Dalam tahap ini maka lahirlah ungkapan puitis yang tidak disadari sebab sebuah imajinasi adalah ungkapan perasaan itu sendiri, tanpa merasa manusia tidaklah mampu berfikir apa-apa, perasaan dan imajinasi adalah sebuah ikatan yang tidak bisa dipisahkan. imajinasi tanpa perasaan adalah kosong, perasaan tanpa imajinasi adalah bisu.
Jika digambarkan secara konsep ketuhanan maka akan menghubungkan pada tingkatan “Manunggaling Kawula Gusti” milik Syekh Siti Jenar sebuah Ajaran metafisika meliputi ontologi, kosmogoni dan antropologi. Ontologi berbicara tentang ada dan tidak ada. Dalam hal ini, Syekh Siti Jenar merumuskan tentang the Reality of the Absolute being (hakikat Dzat Yang Maha Suci) yg memiliki sifat, nama dan perbuatan “Kami”. Dari “Kami” inilah kemudian muncul “ada” dan “keadaan” lain, yg sifat hakikinya adalah “Tunggal”. Manusia yg dalam hidupnya di alam kematian dunia ini disebut sebagai khalifatullah (wakil Allah = pecahan ketunggalan Allah), dan kemudian ia harus berwadah dalam bentuk jisim (jasmani) ia harus menyandang gelar “kawula”, sebab jasad harus melakukan aktivitas untuk memelihara jasadnya dari kerusakan dan untuk menunda kematian yg disebut :”ngibadah” kepada yg menyediakan raga (Gusti). Maka kawula hanya memiliki satu tempat kembali, yakni Allah, sebagai asalnya. Maka manusia tidak boleh terjebak dalam wadah yg hanya berfungsi sementara sebagai “wadah” Roh Ilahi. Justru Roh Ilahi inilah yg harus dijaga guna menuju ketunggalan kembali (Manunggaling Kawula Gusti).
Tuhan adalah bentuk ada dari perasaan dan pikiran itu sendiri sebab menurut ilmu tasawuf  tuhan telah mencelupkan diri pada setiap manusia (tuhan lebih dekat dari pada urat nadi) dan tuhan adalah maha benar dan besar karena itu subuah puisi yang lahir merupakan adaptasi dari sifat ketuhanan. Semakin dalam perasaan maka semakin tidak sadar seseorang mengungkapkan dan berbuat sesuatu, dalam artian sebagai berikut “penyair yang sesunguhnya adalah kitika seseorang mengerti perasaan sebuah tisu yang dibuang ke tong sampah”, walaupun tisu hanya sebuah kertas yang tidak memiliki perasaan dan pemikiran. Sangat dalam sekali, inilah yang kemudia di sebut oleh Vici C.Coulter bahwa penyair adalah orang-orang yang menyerupai dewa-dewa atau seseorang yang sangat dekat dengan dewa.
Dari sini kemudian puisi menjadi alat untama penyampaian perasaan cinta terhadap sesuatu yang melahirkan Kalil Gibran ke dunia sebagai sang pencinta sejati, Jaluddin Rumi sebagai penyair sufi yang fenomenal ataupun Rabi’ah yang selama hidupnya tidak menikah Karena ia telah jatuh cinta pada Tuhan-nya sendiri, sepanjang hidupnya hanya untuk Tuhan-nya bahkan setelah kematianya ia lebih memilih untuk hidup di sisi tuhan sebagai istrinya daripada harus hidup di surga.
“Tuhanku. Tenggelamkan diriku ke dalam lautan. Keikhlasan mencintai-M. Hingga tak ada sesuatu yang menyibukkanku. Selain berdzikir kepada-Mu”(Rabi’ah)
Dalam konteks ini kebenaran dalam puisi adalah sebuah tindakan, puisi dikatakan benar ketika ungkapanya itu telah menjadi pengerak bagi dirinya sendiri, logikanya jujur dan benar bisa nampak ketika sudah bergerak, —mana mungkin bisa dikatakan jujur jika hanya berbicara tanpa melakukan. Kemudian, barulah bisa dikatakan bahwa puisi merupakan ungkapan perasaan atau pikiran penyairnya dalam satu bentuk ciptaan yang utuh dan menyatu. Penyatuan antara jiwa dan raga, jiwa yang bersifat spiritual yang kemudian mengerakkan raga untuk bertutur dan bertindak dari sinilah keutuhan dan kesatuan itu diperoleh.
Lalu dalam kebenaran puisi itu sendiri Tuhan telah mewahyukan surat As-syu’ara (para penyair) kepada utusanya Muhammad dan menciptakan kontradiksi dengan mengutuk seorang penyair “Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap-tiap lembah, dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)?. kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali” (Q.S. al-Syu’ara’ : 224-227).
Sama sekali tidak menyalahkan Tuhan ketika Tuhan dengan sangat baik menyebut bahwa penyair adalah orang yang suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakanya, juga bisa di sebut seorang penyair. Padahal syair itu sendiri adalah sebuah kebenaran yang berada pada sisi spiritual manusia. Jika sudah demikin maka harus ada pembeda antar penyair dan syairnya, yang benar adalah syairnya tetapi ketika syair itu hanya sekedar ungkapan tanpa laku maka gelar penyairnya harus di copot sebut saja hanya sebuah omong kosong (gombal) atau lebih kasarnya jangan sebut itu sebuah syair/puisi jika hanya alat untuk mengelabui, maka dari sinilah Al-Quran sangat mutlak kebenaranya bahwa orang-orang seperti itu (sok penyair) hanya diikuti oleh orang-orang yang sesat karena sudah menyalahgunakan istilah penyair dan syair.
Dan lebih khususnya adalah puisi cinta yang memainkan manifestasi seorang penyair yang sadar sebagai makhluk spiritual. Sebagai makhluk sosial, seseorang senantiasa berusaha mengungkapkan kerinduannya akan nilai-nilai spiritual demi menciptakan keutuhan dirinya. Sementara itu nilai-nilai spiritual itu kian hari kian tergerus oleh peradaban modern yang lebih berorientasi pada materialisme dan hedonisme. Di mana orang berlomba-lomba berhasrat dan berusaha apa saja agar memperoleh “kepemilikan benda tertentu” dan mengejar kesenangan sesaat.
Dari hal inilah kemudian bermunculan penyair-penyair palsu yang melahirkan sajak-sajak palsu yang mengatas namakan kebenaran dalam puisi tetapi hanya sebatas kata-kata indah tanpa didasari kebenaran dalam tindakanya, puisi bisa menjadi sebuah kebanggaan jika sudah mengasilkan materi dan penghargaan atau sebuah pengakuan dengan diterbitkanya di media-media massa jika sudah demikian masih pantaskah disebuat puisi  lebih mendekati kebenaran dibandingkan dengan sejarah? Padahal puisi yang sebenarnya adalah do’a.
Surabaya 02.03.2013.5:46 AM

Seberapa Besar Perasaanmu Pada Ibumu?

Oleh : Toriq Fahmi


عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ
Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Ibu, sebuah nama yang sakral dan memiliki ruang tersendiri dalam bentuk cinta, kasih dan sayang. Semua akan merangkap menjadi suatu ungakapan rasa yang tak pernah dimengerti manusia. Kedudukannya mengalahkan apapun di dunia ini bahkan Tuhan pun berserah pada seorang ibu. “Surga ada di telapak kaki ibu”. Ya, Tuhan menyerahkan surga pada seorang ibu. Itu berarti ibu memiliki bentuk ketuhanan tersendiri dalam perasaan manusia.

Apakah ibu berhak mendapatkan cinta seperti cinta seseorang kepada kekasihnya atau mendapatkan cinta layaknya cinta kepada Tuhan? Tidak. Karena perasaan itulah disebut sebagai sumber dari segala perasaan. Ketika aku mencintai ibu maka aku akan mencintai Tuhan. Ketika aku mencintai ibu maka aku mencintai wanita atau laki-laki, semuanya terlahir dari situ karena tuhan telah menaruh jari-jarinya pada wanita yang bernama ibu.

Sebuah pertanyaan besar akan datang ketika berbicara tentang cinta ibu, tak perlu susah payah menjawab pertanyaan “apa yang sudah kau perbuat terhadap ibumu?” karna sampai kapanpun seorang anak tidak akan mampu berbuat apa-apa terhadap ibunya, semua tidak akan pernah terbalaskan. tetapi yang perlu dipertanyakan adalah “seberapa besar perasaanmu pada ibumu?”,hatilah yang akan berbicara dalam bahasanya dengan berbagai macam bentuk entah itu puisi, lukisan, bingkisan atau hal-hal yang mengesankan yang membuat sosok ibu akan tertegun dengan tetes airmata haru dan bangga.

Begitu juga yang dirasakan oleh setiap penyair yang memiliki kedalam jiwa terhadap hal apapun yang dilihatnya bahkan benda mati sekalipun, karena itu puisi adalah kejujuran dan kebenaran sebuah perasaan. Benar kata Plato, “puisi lebih mendekati kebenaran dibandingakan dengan sejarah”. Karena itu kekuatan puisi itu tergantung pada kedalam perasaan seorang penyair kepada objek yang dituju, seperti halnya Zawawi Imron sebelum membacakan karyanya yang berjudul “Ibu” dia sempat mengatakan “jika saya membaca puisi ini tidak bagus maka saya adalah zawawi tetapi jika saya membaca puisi dengan bagus maka saya adalah anak ibu”. Di sinilah ketentuannya, kekuatan dan ketajaman dari puisi yang ditulis tergantung pada kedalaman perasaan yang dirasakan penyair terhadap ibunya.

Menulis puisi telah lama menjadi termometer cinta, kasih dan sayang bagi setiap penyair, jika penyair menuliskan puisi ibu maka perasaan terhadap ibunya akan dikuras habis, jika puisi yang ditulis terkesan monoton berarti begitulah perasaannya terhadap ibunya begitu juga sebaliknya. Maka permainkan perasaan dengan sehalus mungkin, ungkapkan rasa cinta itu ke dalam jiwa baru yang akan membangkitkan gairah dalam sebuah kehidupan penuh cinta seorang ibu.

Kamis, 09 Februari 2012

CORETAN KASIH DI DINDING “YAUMUL MARHAMAH”


(Valentine’day for the lover)

Apa arti hidup jika hanya mencari keletihan disetiap penjuru keadaan, kemunafikan menghakimi membuat semuanya sunyi, hal yang takpasti hanya memberi argumentasi taklayak dipandang “AKU BAIK”, hanya saja kepastian berkata aku termutilasi, terpotong menjadi kesetiaan-kesetiaan takberwujud, semua memberi cara “BEGINILAH HIDUP” tapi tetap saja jalanya sempit sampai-sampai semut saja takmampu melintas. Haruskah setiap hamba hanya tunduk pasrah pada takdir? Kalau begitu Tuhan akan tertawa dan mencela kau hamba takberguna.

bukan kebenaran yang aku bicarakan, ini hanya sekedar coretan, coretan yang hanya membuat rusuh dipagar-pagar rumah pingir jalan.

“CINTA” kata sakral yang datang bertubi-tubi menghujam gelisah kuasa ilahi, takperlu dicari karna semua menyadari adanya dan kuasanya, jika hamba tercipta hanya untuk tunduk dan sujud maka takhayal  jika perselingkuhan mengintim membuat lupa diri siapakah hamba ini? Kebosanan mengunjing disana-sini, itu tabiat manusia yang ada sejak lahir takperlu diteliti kebenaranya, karena semua ada ketika menyadari adanya, semua murtat seperti iblis yang sombong  enggan menempelkan dahi pada hamparan di depan Adam. Layakkah membangkang jika hanya seperti debu ditiup saja terhempas dan hilang tanpa jejak, pikiran tentang kekasih hanya akan mencoret dinding yang kata Nabi  “MARHAMAH” atau lebih tepatnya  “MAHABBAH”, entah keangkuhan apa yang membutakan jalan setapak menjadi buram. 

Tolong hapus kata “MAHABBAH” ganti dengan “MUSIBAH” jika hanya memujana 5waktu dalam sehari, sedang Iman menjelma hanya saat itu saja. AKU BERIMAN tolong diam saja jangan katakana itu yang berhak menilai hanya sang Cinta, kerasisan hanya akan menegelamkan kedalam neraka terdalam walaupun teriak sekencang-kencangnya “Muahammad, Muhammad, Muhammad” ia takkan memberI safaat, malah ribuan malaikat akan bergantian memecah kepalamu yang mati-hidup, mati-hidup.

Surga yang kata nabi “jika kamu membayangkan tentang itu maka bukan itu” filosofi yang belum terpecahkan sampai sekarang, itu bertanda bahwa dalam peribadahan takpatut berharap pamrih, jangan heran jika kata munafik mencampakkanmu dari surga kelak, surga bukan tempat orang-orang yang berharap timbal balik dari apa yang dilakukanya, tapi surga tempat para Nabi dan Sahabatnya yang keiklasanya melibihi aliran nafasnya, masi pantaskah disebut diri ini beriman? Tak perlu dijawab, jangan narsis jika keimananmu hanya seperti kotoran yang menempel di ujung kuku atau seperti gudal di gusi. Masi ingat kata dunia bahwa orang yang pintar adalah orang yang mengatakan dirinya bodoh, coba raba apa kata dunia tentang itu.
Ini bukan kebenaran, sekali lagi ini hanya coretan, coretan yang aku anggap ini nostalgia, nostalgiya cinta kepada sang pencipta, saat aku masih seberkas cahaya sebelum berdarah dan berdaging.

Aku takpernah mengigat waktu itu karena tentu saja pasti saat itu aku masih sangat suci sebab aku belum menjadi aktor yang terjun dalam persandiwaran, hanya saja aku masih dilatih di sanggar teater dan belum tersertifikat untuk pentas, entah kapan aku turun aku tak pernah sadar  tiba-tiba saja aku sudah berada di atas panggung ya..panggung itu bernama “DUNIA”, pangung yang benar-benar megah layaknya panggung yang menghabiskan miliaran rupiah. Uppss..maaf panging dunia takbernilai akgka tapi bernilai kuasa. Dalam persandiwaraan antagonis atau protogonis bermuara pada Aktor masing-masing, sebang Sutradara membebaskan Aktor berexperesi semaunya dan sesukanya hanya saja yang membangkan akan dilempar. 1..2..3..Exsien mulailah permainan, cintanya(Allah) akan meliputi setiap cinta yang mencintainya.
“Jalan Rosul adalah jalan cinta, kita adalah anak-anak cinta, cinta adalah ibu kita”, begitulah kiranya saat Jalaluddin Rumi bersyair tentang cinta.

Fahmi Toriq
Surabaya 021012. 01:34 AM




Senin, 08 Agustus 2011

CINTA

-->
Seperti sebuah tiupan angin, cinta itu lembut dan mengantarkan kesejukan. Angin adalah sesuatu hal yang abstrak. Tapi ketika dia sudah bertindak kasar, jangankan segundukan gunung pasir yang tinggi, gedung angkuh dan menara pencakar langit pun bisa luluh lantak tanpa sisa.

Demikian pula cinta, ia di takdirkan sebagai satu tanpa bentuk, nama untuk beragam perasaan, judul untuk gemuruh hati, muara dari berjuta makna, wakil dari harapan tak terkira dan kekuatan yang tak terartikan.

Cinta mampu mengubah seorang pengecut menjadi seorang pemberani, yang pelit jadi dermawan, yang malas jadi rajin, yang pesimis jadi optimis, yang kasar jadi lembut dan yang lemah jadi kuat. Cinta merajut emosi manusia dengan begitu agung bahkan rumit sekaligus. Maka syair-syair Rabi`ah Adawiyah. Jalaludin Rumi, Mohammad Labai, Kahlil Gibran, sampai Romeo dan Juliet serta Cinderella menjadi begitu abadi tersimpan di dalam lembar sejarah hidup manusia.
-->
Jika tidak ada cinta, dunia akan membeku menurut Jalaludin Rumi dan menurut Don P. Herod cinta itu seperti pertandingan tenis kamu tidak akan pernah menang terus menerus sebelum kamu belajar untuk melakukan pukulan awal dengan baik.

Cinta tidak pernah habis dibicarakan dimanapun dan kapanpun bahkan arti cinta itu sendiri sering di salah pahami dan di tuding sebagai penyebab terjadinya pertikaian dan kerusakan di bumi, padahal cinta sangat berjasa bagi manusia karena berkat cinta manusia dapat membentuk keluarga, mempunyai keturunan dan dapat hidup bermasyarakat.

Orang-orang inggris menyebut cinta dengan LOVE, bahasa jepang mengungkapkan AISHITERU dan orang-orang arab menyebutnya MAHABBAH, dalam kamus bahasa inggris kata cinta (LOVE) memiliki arti :

  1. Rasa kasih sayang yang lembut dan mendalam serta perhatian terhadap seseorang yang timbul dari kebaikan hati atau rasa untuk memiliki.
  2. Hasrat dan rasa keterkaitan yang kuat terhadap seseorang yang di takdirkan untuk bersama dalam emosi, seks.
  3. Sentuhan emosi yang mendalam.
  4. Istilah ini sering di gunakan utntuk mengungkapkan rasa kasih sayang.
  5. Suatu Ekspresi dari rasa kasih sayang seseorang sehingga terucap kalimat “Sampaikan cintaku padanya”.
  6. Rasa suka atau antusiasme yang kuat.
  7. Hasrat seksual atau hubungan seksual.
  8. Anugerah yang diberikan oleh Tuhan.
Kata tokoh pemikir muslim Dr. Yusuf Qordawi cinta adalah ruh kehidupan dan pilar dari lestarinya umat manusia, maka cinta itulah yang menjadi kekuatan penahan dari terjadinya benturan antara manusia yang bisa mendorong kehancuran “Ya” hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga.

Untuk memulai memahami hakikat cinta perlu di telusuri terlebih dahulu makna-makna cinta yang berkaitan dengan kata cinta kamus bahasa indonesia mengartikan cinta sebagai perasaan suka, sayang, kasih, terpikat, rasa ingin memiliki, rasa rindu hingga sikap rela melakukan apapun demi yang dicintai, bila disederhanakan maka cinta dengan bahasa indonesia adalah perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu untuk memiliki, mendapatkan perasaan untuk dapat bersama-sama hingga melahirkan sikap patuh, bahkan bersedia melakukan apapun demi memperoleh apa yang diinginkan, itulah pengertian cinta secara detail dan rinci, sebab jika berbicara masalah cinta sampai kapanpun tak akan pernah ada habisnya.

Toriq Fahmi

Asmara dalam Pandangan Agama


Islam memandang asmara sebagai sesuatu yang biasa dan sederhana, Islam adalah agama fitrah, sedang asmara itu sendiri adalah fitrah kemanusiaan. Allah telah menanamkan perasaan cinta yang tumbuh dihati manusia, Islam tidak pernah melarang seseorang untuk dicintai dan mencintai, bahkan Rasulullah mengajarkan agar cinta di utarakan :
“Apabila seseorang mencintai saudaranya maka hendaklah ia memberitahu bahwa dia mencintai “ (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi)
Seorang muslim dan muslim lainya tidak dilarang untuk saling mencintai. Mereka juga tidak dilarang untuk jatuh cinta, hanya saja Islam menyediakan penyaluran melalui lembaga pernikahan, Karena ini sudah menjadi sebuah tuntutan dasar dalam menjalankan agama. Ketika sudah jatuh cinta maka pernikahan solusinya, Karena tidak ada hal yang menentramkan hati bagi seorang kekasih yang merindukan kekasihnya, kecuali bisa bersama setiap saat. Kebersamaan itu bisa terwujud bila sudah diikat dengan tali pernikahan :
 “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. “ (Ar-Rum: 21)
Ayat diatas merupakan jaminan bahwa cinta dan kasih sayang akan Allah tumbuhkan dalam hati pasangan yang bersatu karena Allah (setelah menikah)

Jadi, kelihatannya tidak perlu menguji kedalaman cinta dengan pacaran berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, Karena mengenal seseorang bisa dilakukan dalam jangka waktu yang lebih singkat dari itu, tidak perlu menilai kecocokan dengan berpacaran karena saat ngobrol dalam segi ta`aruf itu pun sudah bisa dikenali apakah cocok atau tidak.

Dalam islam ada peringkat-peringkat cinta, siapa yang harus di dahulukan, siapa pula yang harus utamakan, tingkatan ini sebaiknya di pahami oleh remaja, karena bila menempatkan prioritas yang salah. Jika salah maka akan terjadi sebuah kesalahan yang luar biasa, karena hal itu bisa menjadikan kemusrikan karena menandingi cinta Allah dengan cinta kepada mahluknya.
 “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). “ ( Al-Baqarah: 165)
Menurut Ibnu Qoyyim, seorang ulama di abad ke-7, terdapat enam peringkat cinta (maratibun-mahabbah) yaitu :

  1. Peringkat ke -1 dan yang paling tinggi adalah: Tatayyum yang merupakan kepada Allah semata. “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). “ ( Al-Baqarah: 165)
  1. Peringkat ke -2 : Isyk yang merupakan hak Rasulullah SAW : “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. “ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “ (Ali Imron : 31)
  2. Peringkat ke -3 : Syauq yaitu cinta antara mukmin dengan mukmin lainnya. Antara suami istri, antara orang tua dan anak yang membuahkan rasa Mawaddah Warahmah.
  3. Peringkat ke -4 : Shababah yaitu cinta yang melahirkan Ukhuwah Islamiyah, cinta ini menuntut sebuah kesabaran untuk menerima perbedaan dan melihatnya sebagai hikmah yang berharga.
  4. Peringkat ke – 5 : yaitu Ithf (simpati) yang di tunjukkan kepada sesama manusia. Rasa simpati ini melahirkan kecenderungan untuk menyelamatkan manusia.
  5. Peringkat ke -6 : adalah peringkat yang paling rendah dan sederhana, yaitu cinta atau keinginan kepada selain menusia : harta benda, namun keinginan ini sebatas intifa` (pendayagunaan atau pemanfaatan). Cinta jenis inilah yang sering meggelincirkan manusia.
Begitulah pandangan syar`i terhadap asmara, asmara adalah fitrah manusia dan Islam adalah agama fitrah, untuk itu Islam memberi solusi untuk menikah sebagai jalan satu-satunya yang di ridoi Allah. 


Toriq Fahmi