Kamis, 05 Desember 2013

SIASAT TIKUS

Toriq Fahmi

Tikus, tikus, tikus, tikus
Berburu tikus di sawah
Petani dengan cangkul berburu tikus
Tikus-tikus menjadi hama, harus dibunuh

Sebelum hasil panen menurun
Maka diadakan perburuan tikus
Serempak, hari nasional perburuan tikus
Seluruh petani berkumpul, membicarakan strategi perburuan tikus
Racun-racun berbagai merek dikumpulkan
Perangkap kayu dan besi telah disiapkan
Esok, hari perburuan dimulai

Di sawah, barangkali tikus juga berkumpul
Berbicara strategi perlawanan
Ilmuan-ilmuan tikus bereksperimen
Jadilah tikus anti racun
Dimeja bundar mereka berpolitik
Cara menipu petani dan prangkapnya
Esok, menjadi hari peperangan besar

Nasib sawah terancam
Padi, jagung, kangkung tidak menjadi harapan
Racun ditebar, perangkap dipasang
Perburuan dimulai, petani kebingungan
Tikus-tikus sangat cerdik
Tanaman rusak ulah petani sendiri
Tanahnya tercemar racun, siasat tikus yang cerdas
Hasil panen menurun, petani merugi
Penen tidak menjadi janji hidup

Anak-anaknya kelaparan
Bagaimana akan sekolah, Makan saja susah
Tikus-tikus menjadi noda
Tinggallah do’a, semoga tikus mengenal tobat



Surabaya, 2013

JANGAN BERISIK

Toriq Fahmi


Seeet, diam ada sidang paripurna
Kepentingan kita sedang dijual
Kebijakan dikirim lewat sms
Sangat rahasia, rakyat tak boleh tau
Harganya miliaran rupiah

Sms disebar, kode-kode rahasia
Penghuni gorong-gorong yang tau
Besok merapat, di tempat biasa
Gang 168 pinggir jalan, turunlah ke bawah
Jangan lupa tunjukkan kartu nama

Jamuan makan malam kita
Menu keju, buatan istri-istri muda
Sangat lezat, diolah dengan resep rahasia
Makanlah dengan lahap dan kenyang
Kita terbahak sampai larut

Seeet, diam ada sidang paripurna
Kepentingan kita sedang dijual
Kebijakan dikirim lewat sms
Sangat rahasia, rakyat jelata tak boleh tau
Harganya miliaran rupiah

Surabaya 2013

MENUNGGU HUJAN TURUN

Toriq Fahmi

Kutukan musim
Sampai November cuaca masih panas
Mari bukak catatan harian
Apa yang salah, kita koreksi

Bangunan terbengkala
Jembatan tidak sambung-sambung
Mendidik tapi tak cerdas-cerdas
Wah, aku curiga dengan itu
Jangan-jangan itu penyebabnya

Bukan, “tanpa alasan”
Kita belum siap menerima hujan
Sebab suangai belum cukup menampungnya
Nanti banjir, jadi kumuh dan kotor
Penyakit menyebar, banyak yang sakit
Siapa yang susah, sehat itu mahal

Benar akan terjadi banjir, siap siaga
Bukaknkah itu agenda tahunan kita
Betul akan banyak penyakit, waspada
Andai pengobatan murah tak jadi masalah
aku semakin curing

Ini catatan harianmu
Persekongkolan bawah tanah
Semoga hujan lekas turun
Hati-hati air meluap di gorong-gorong
Dan seluruh penghuninya hanyut

Surabaya 2013


Selasa, 08 Oktober 2013

Edisi Baru Ciuman Kita

Toriq Fahmi

Hai, bisikanmu gila
Mengajak renang lalu menyelam
Katanya kita akan berciuman
Agar tidak kelam dan bosan

Hai, airnya terlalu pahit
Mengandung kaporit, tidak baik untuk kulit
Lagipula nafasku dangkal
Mana mungkin bisa lama menyelam

Hai, ciumanmu dalam kolam
Edisi baru percintaan, kita ini autis
Benar nefasku pendek, dua menit saja
Kita baru sekarang, sudah cerah

Hai, lain kali ayo berenag lagi
Berciuman, pakai tehnik bertukar nafas
Agar bertambah beberapa menit
Terus dan terus sampai satu jam

Surabaya 2013



Galau

Toriq Fahmi

tubuhku sedang tak bertuan
jangan tanyakan sanguinis padaku
melankolisnya datang
aku tidak senang

jangan tertipu, aku orang lain

Surabaya 2013

Taman Mawar Baru

Toriq fahmi

Mawar-mawar kita telah layu
Tapi tak pernah gugur kelopaknya
Tetap merah hanya sedikit lebam
Sentuh durinya, sangat ramah
Siapapun boleh memegang

Mawar-mawar kita yang berserak
Dipungguti orang-orang
Biarkan, wanginya begitu ramai
Kita menuggu damai
Baragkali kita akan lelah

Ada waktu,
Akan ada taman diisi macam-macam mawar
Yang kau siram setiap terang dan petang

Surabaya 2013

Cerita Anak

Toriq Fahmi

mari kita bercerita
dogeng anak-anak yang terlupa
tentang kancil atau keong emas
supaya anak kita lahir jenaka
pandai mengambar dan menyayi
mencari kertas lalu menulis
bertanya pada ibunya kenapa huruf B seperti ibu yang hamil
betapa cerdasnya anak kita

dogeng menjadi kenaganya
mengkeja huruf menjadi sajak
ditulisnya ditisu rupanya ia telah jatuh cinta
bertanya pada ibunya kenapa wanita suka puisi
ada rasa yang tertinggal, belajarlah pada ayah
rak-rak buku tidak lagi menjadi jaring laba-laba
ia telah kenal ibunya, belajar gitar dan piano
katanya biar tidak seperti ayah
dipanggung ia juara, wanita mengiriminya mata
ia kenal ibunya, jatuh pilihanya
belajar luka

akhirnya ia kenal ayahnya
katanya nilai ujian sudah tak penting
ia tak pernah pulang, berpangku pada negara
katanya kau di istana menurunkan harga beras
ia kenal ayahnya, duduk di parlemen
menulis antologi puisi bersama

Surabaya 2013