Senin, 03 Juni 2013

Berburu Bulan

Toriq Fahmi

Kita memanah matahari
Matahari mati, berganti bulan
Apa kita juga memanah bulan
Ya, kita harus memanahnya
Bulan itu dusta

Tidak, bulan itu jujur, jangan bunuh
Kita buru saja pelan-pelan
Seberapa kuat ia

Bulan itu jujur katamu
Kita buktikan, mari berburu rembulan
Jangan bunuh, ingat jangan bunuh
Kalau melawan keluarkan pedang
Kita buru seberapa jujur ia

Jika ia menyerah bunuhlah, ia pendusta
Jika ia lari, mari kita buru lagi
Seberapa tangguh ia, bertahan jujur

Surabaya 2013

Kencing Di tembok

Toriq Fahmi

Seorang anak kencing di tembok
Lumut-lumut kepanasan, menyambut girang
Lumutnya melebat tanpa hujan
Tembok hijau, rata lumut

Anak itu datang lagi
Mengencingi tembok
Lumut-lumut menjadi pohon
Pohon tumbuh di tembok

surabaya 2013

Jumat, 31 Mei 2013

Ikhlas

Toriq Fahmi

Jarum jam kita macet
Mesin penghitung kita rusak
Kalender di dinding hilang
Anak-anak kita lupa bermain sampoa
Kita memejamkan mata
Dunia tanpa angka

Manusia tanpa hitungan

Surabaya 2013

Bulan Pecah

Toriq Fahmi

Datanglah, kita memecah bulan lagi
Separuhnya kita sembunyikan
Orang-orang telanjang mencari pecahan bulan
Gempar kehilangan purnama
Persetubuhan mereka tertunda

Kita sembunyi dengan tenag
Tempat ini aman tanpa bulan
Jerit kita dimulai
Nyanyian ciuman, memecah-mecah bulan

Hilangnya separuh bulan
Diapit mesrah, menyala didalam rok abu-abu

Surabaya 2013

Kamis, 30 Mei 2013

Kematian Padma

Toriq Fahmi

Wajah jendela menuggu musim
Tanpa kabar kapan ia datang
Kisahnya sama, datar
Hanya bersama padma

Sepasang jarum jam, mata tunggu
Menekuni  do’a kapan datang musim
Berbisik pada jendela, kita perindu
Kisahnya sama, memberi warna Padma

Padma kita binasa
Mesim begitu senyap
Grimisnya lelah, kakinya telah patah
Kita menangis sebagai ganti grimis
Selamat pagi kamboja

Surabaya 2013

Rabu, 29 Mei 2013

Sepasang Mata Buta


Toriq Fahmi

Bulan musim suram
Tinggal separuh dimakan zaman yang kelam
Pada gemercik cahanya
Ada do’a yang dikirim lelaki bermata bulan
Sama, matanya redup menyulam kenagan yang hampir habis

Bulan musim hangat
Habis diracik zaman yang sekarat
Pekatnya dusta, sembunyi tanpa wajah
Sampailah do’anya saat matanya habis
Buta, kepastian rindu, waktu tanpa keluh grutu

Sampailah, bulanya kelabu
Tanpa tahu kelabu, ia rasa begitu sendu
Bangun kerajaan itu, damai tanpa penglihatan
Tahtanya perasaan dengan sepasang bulan
Mahkota kematian dari sepasang mata buta

Surabaya 2013

Senin, 27 Mei 2013

Musim perang

Toriq fahmi

Era baru dikenang
Era musim hujan, musim genangan
Genangan rindu, genangan yang dikenang
Mata-mata tengelam, memandang angkuh
Wajah datang menantang perang

Kita menghayal sepuas kita kenang
Era pejantan lemah yang kalah
Diperbudak perang, mati rindu
Penjajahan rasa, disiksa ingatan

Kita bersenggama di kalut asap deru peluru
Mati cinta, lahir prajurit-prajurit sajak
Deras menghujam jantung-jantung kenagan
Genangan kenangan, kembali ke medan perang
Plajurit kita datang meyandang bunga kamboja

Surabaya 2013