Selasa, 23 April 2013

Selasa, 23 April 2013

Bagiku menjadi mahasiswa bukan hanya sekedar kuliyah dan mengerjakan tugas, tapi mahasiswa yang sebenarnya adalah bagaimana kita berfikir tentang segala sesuatu dan belajar mengenal segala hal yang ada pada setiap kehidupan, bersosial, berintraksi dengan segala bentuk manusia  tanpa harus membedakan dari mana ia berasal dari golongan apa ia datang. Saling menghargai karena kita sama-sama berkepentingan dan dipentingkan.

Mahasiswa adalah bentuk dari pembelajaran tentang sebuah kebenaran dan kekacauan, dengan ini kita akan tau mana yang harus dilakukan dan tidak, sebab segala bentuk perbuatan sudah pernah kita sama ratakan tanpa harus membedakan kebaikan atau keburukan. Terkusus untuk cinta yang mengingatkan darimana kita berasal dan untuk siapa kita dihidupkan, dengan segala jenis cinta, kasih dan sayang mengajarkan bahwa kita tidak hanya berakal tapi juga berperasaan.

Mahasiswa adalah bagaimana cara kita menyampaikan lewat segala bentuk keindahan berkarya, menyuarakan kegelisahan-kegelisahan yang tak pernah habis ditulis, bagaimana kita dituntut keritis, tajam dan berani atas nama pembebasan. Penjajahan dan penindasan adalah hal yang harus dibubarkan sempai detik nafas terakhir.

Mahasiswa adalah sebuah tangung jawab bagaimana kita harus melakukan segala bentuk perjuangan untuk sebuah perubahan bagi bagsa ini dan berguna bagi orang lain setidaknya untuk diri kita sendiri.

Toriq fahmi
Surabaya 02:28 PM

Rabu, 17 April 2013

Bertema "KAMU"

Ini tentang kamu yang masih pagi maka ku ucapkan selamat pagi untukmu, nikmati hari ini bersamaku tanpa kau ketahui, tenag aku hanya ingin memperhatikanmu dari balik aktivitasku yang semakin membekukanku dan kaulah pencairnya, walaupun susah payah harus ku buru wajahmu terlebih dahulu setelah makan atau waktu matahari sudah mulai tenggelam. Sangat kebetulan jika aku menjumpaimu di jalan, rasanya aku akan mematung di jalan itu dan menuggu motor atau mobil yang lewat dan bruaakk..baru aku sadar, tukang hipnotis kelas kakap.

Aku kirim kisah ini padamu, lewat malam-malam yang tak pernah habis di perjual belikan di warung-warung kopi, malam hanya bisa habis oleh mentari yang seperti matamu, ya sama sepertiku yang telah habis di telan matamu itu.

besok pukul senja ku cari dirimu sampai ketemu dan kunikmati wajahmu di bawah keemasan senja yang sedang cemburu, tak peduli yang pasti kamu akan ku jadikan senja pada setiap soreku, setuju atau tidak itu terserah aku, aku tak peduli sebab aku hanya menaggalkanmu pada lagit-lagit sore sebagai pengganti senja yang telah kusam dan sudah terasa buruk dimataku sebab ku jumpai kamu yang begitu Allah.

Sudah cukup itu saja, sepertinya aku akan segera gila jika ku teruskan sajak-sajak kacau ini sebab tak mampu kujumpai kejujuran yang nyata dari artiku yang sudah menemukanmu, aku sepakat jika kamu menjadi senja, cukup itu saja, senja itu kuning keemasan tapi kamu tidak, kamu adalah senjaku yang bisa berubah warna sesukaku.

Ini serius tentang kamu, benar-benar buat kamu.
Malam ini bertemakan kamu, tentang kamu dan siapa kamu, bolehkah sedikit aku belajar untuk mengenalmu supaya perasaanku lebih jujur dan hatiku lebih masuk akal.

Toriq Fahmi
Surabaya.021813


Rabu, 17 April 2013. 09:54 PM

Aku telah menemukan jalanya, sebuah jalan dimana aku harus menyusurinya dengan kegelisahan yang amat padat.

Membuat waktu dimana lebih masuk akal dari pada sekedar tidur, bangun, kuliyah dan menyelesaikan tugas kuliyah lalu tidur lagi.

Aku telah menemukanya bermain dengan kegelisahan tentang sebuah pertanyaan yang menempel di dinding-dinding malam yang harus aku punguti satu persatu dan menyelesaikanya dengan satu perubahan disetiap paginya.

Sebuah kegelisahan tentang agama dan pembuatnya, tentang sebuah kebenaran yang sesungguhnya, tentang penghargaan dan cara menghargai tanpa harus membedakan darimana ia berasal, tentang cinta dan lagit malam yang tak pernah mengantarkanku untuk tertidur lelap seperti dulu dan setiap pagi yang menuntutku membuat rencana-rencana untuk kehidupan ke depan, apa kelak aku kan berguna bagi bagsaku atau hanya menjadi salah satu orang yang tak berguna yang tak melakukan apa-apa kemudian mati, aku tak pernah menginginkan kematianku berjalan dengan sia-sia kemudian orang-orang akan melupakanku, setidaknya setelah aku mati kelak orang-orang akan menanam namaku dengan sentuhan airmata kehilangan.

Tak ada waktu tanpa perjalanan, berbaur dengan orang-orang, berbicara tentang segala hal tentang apa yang aku ketahui di dunia ini, mendiskusikan intelektualitas dengan cara retorika yang baik dan benar tanpa harus menyinggung dan merendahkan orang lain, tak ada batasan dalam pergaulan semua ku gauli dengan cara berusaha berteman dengan baik, lintas agama, budaya, idiologi, rupa, warna, genre semua bagiku menjadi ilmu yang harus di rangkum dalam buku perjalanan sehingga sejauh apapun aku pergi aku bisa menemukan jalan untuk pulang.

Tak ada waktu tanpa mencari, mencari segala hal yang ingin aku temui, lewat buku, internet tak terkeculai warung-warung kopi yang menawarkan segala bentuk kegelisahan setiap waktu dengan harga yang cukup murah, semua ku tampung dengan senag membuat tumpukan gelisah yang harus aku selesaikan malam itu juga.

Tak ada akhir dalam pelajaran, perubahan, pergerakan, pergaulan, pencarian kebenaran dan kemerdekaan. Aku titipkan semua yang kumiliki pada setiap jalan-jalan yang pernah aku lalui, tempat-tempat yang pernah aku singgahi dan setiap orang yang pernah ku jumpai, semua ku akhiri dengan cara cinta yang luar biyasa yang berakhir dengan kesadaran bahwa aku adalah sebuah karya dan harus berkarya.

Toriq Fahmi

Rabu, 10 April 2013

12 : 00

Jumpai aku pada dasar kekecewaanku lantaran aku tak mampu menyambutmu dengan berani dan jantan, sekiranya nanti kau telah ku kenal dengan tatapanku yang jujur maka izinkan jika aku menuliskan namamu pada dinding-dinding kamarku yang masih polos, membuat waktu dimana aku akan tertidur dan bermimpi dengan suasana gerimis yang mendudukkan kita berdua pada gazebo berbentuk bundar, bermimpi sedalam yang ku bisa sampai aku benar-benar tengelam dalam lukisanmu, kau akan melukisku dengan tatapan membunuh yang ku sebut itu cara senimu yang paling bagus dan mahal.

Izinkan aku mengenalmu, tolong izinkanlah, sebentar saja hadirlah pada meja bundarku dan kursi yang sudah aku siapkan kusus buatmu yang Berukiran ala seniman yang sedang menemukan inspirasi liar tentang sebuah wajah, tentang sosok wanita, tentang kesenagan yang sendang menjalar pada pemukiman-pemukiman waktu yang gersang, betapa mujurnya mataku jika bertemu dengan matamu, betapa beruntungnya tanganku jika sudah bertemu dengan tanganmu. Kapan kita akan berjumpa lagi dan mendiskusikan tentang perkenalan kita ini, aku menuggunya sampai nanti aku telah lelah.

Sekarang yang ada hanyalah kesempitan, tak ada ruang bagaimana aku akan mendiskusikan tentang sebuah tulisan, tulisan yang terbuat dari rasa penasaran, tulisan yang ngawur sebab tak ada cara yang tepat  bagai mana aku akan menemuimu lagi.

Besok pukul 12:00 aku akan kembali mengngintipmu dari cela-cela cahaya yang masuk di mataku, memotretmu dengan mataku lalu kukirimkan pesan pada perasaan bahwa aku sealalu berdiam pada tempat yang sama di waktu yang sama, tepat pukul 12:00.

Besok pukul 12:00 aku kembali hadir di ruang ini, mengamatimu dari cela-cela jendela mataku, merenugimu seberapa dalam aku ingin menjumpaimu, lalu dengan sumringah aku akan menulis untukmu, menuliskan satu sajak harian bernama kamu dengan akhir tulisan Surabaya 12:00.

Toriq Fahmi
Surabaya 111413. 12:00 AM

Sabtu, 06 April 2013

MATAKU, MATA MALAM


Ada mata  malam yang sudah tengelam, menyisakan hujan dengan langkahnya yang basah
Malam ini begitu sembab menyisakan mataku yang berjalan seperti pagi biyasanya
Matahari akan tiba dan takakan pernah ingkar janji.

Seperti aku yang datang pada malam-malamu yang sunyi dan dingin membuat waktu berupa kamu
Hanya kamu dan memang masih kamu pemilik segala hal yang ada pada hidup dan matiku
Bagaimana lagi aku akan membuat waktu dimana matamu akan memandangku seperti mata yang dulu
Menaungi dan merengkuh seluruh hari-hariku bernuansa mawar yang kau tabur di atas pekuburan.

Entahlah, memang masih kamu pemilik segalahal yang ada pada hidup dan matiku
biarkan semuanya kutebar rasa hidup dan matiku ke seluruh waktu bahwa aku masih membayangimu
memberi nama pada setiap jejaknya sebagai bekas kenagan bahwa aku masih sama sebagai kamu

Ada mata malam yang sudah tengelam, menyisakan genagan bekas air hujan semalam
Malam ini begitu sendu sama seperti mataku yang telah melayu
Matahari akan tiba dan tak akan pernah ingkar janji

Toriq Fahmi
Surabaya. 060413. 02:07 AM

Selasa, 26 Maret 2013

RAHASIA SENI

Bukan bagaimana aku cemburu yang melahirkan kisah cantik tentang seorang memimpi ulung yang tak pernah tertidur saat malam telah begitu tua dan akan segera mati, tapi beginilah cara waktu bekerja untuk sosok yang tak pernah malu pada siapapun sebab baginya ini adalah jalanya, jalan bagaimana ia akan berfikir dewasa, menentang pekatnya malam dengan ribuan sajak yang ditulis dengan cara sembarang. Aku cemburu pada sang pelukis, aku cemburu padang sang interprener yang menatapmu dengan cara yang benar dan sempurna, walau belum ku temukan kebenaranya apakah dia benar-benar tulus memujamu.


Ia melukis untukmu dengan cara hati yang benar-benar serius, meniggalkan masa kecilnya yang usang dan menciptakan mimpinya dengan cara yang sunguh-sunguh sampai pada waktu yang menjemputnya untuk hidup penuh istimewa, membuat waktu sendiri dimana hidupnya adalah seni, seni yang mengantarkan pada dunia bermata mahal, sebagai kehidupan baru yang lebih dewasa dan benar-benar bisa dikatakan kehidupan yang sesungguhnya, ia mengatur jiwanya dengan cara seni yang sudah matang dan terjual, semuanya untukmu bahan seni yang nyata baginya. 

Bermula dari seni, ia kirimkan seni untukmu, seni paling mulus yang menjual jiwanya untukmu, menjatuhkan purnama-purnama yang telah using baginya, menjumpaimu dengan cara seni, mendekatimu dengan cara seni, bembuat cinta untukmu dengan cara seni, menyentuh dan menciummu dengan cara seni yang paling mahal dan takkan pernah terjual, kau terjatuh dengan kesenian menjemputnya dengan cara seni pula walau masih tertatih menerjemahkanya, ikut tertawan dan menyediakan tempat untuk melukis dalam jiwamu, menghidupimu dengan jaji seni yang paling agung, kau telah bahagia dengan cara seni, seni yang indah, seni yang menawan, seni yang massaallah dan seni yang telah merubahmu begitu cantik sebab dia telah ribuan kali melukismu di lagit-langit, di dinding kamarnya di setiap jemarinya yang pandai mengores wajahmu sudah bertatokan namamu pula, mau apalagi bahkan pada setiap hidupnya sudah penuh oleh lukisan wajahmu. Diam-diam telah ku tawar lukisan itu dengan harga seniku yang paling mahal tapi tetap saja tak mampu ku belinya dan seniku masih terkesan murahan dan taklaku baginya sebab ia tau seniku takkan mampu menghidupimu dengan cara seni  seperti seni miliknya, sebab itulah kau begitu cantik baginya apalagi untukku.

Ini seniku mengambarkan kecemburuan pada sang pemilik seni sejati karena sudah mampu menciptakan seni paling mahal dalam hidupnya itulah kamu, bagai mana aku akan bicara tentang kamu sedang seni-seniku masih dikonsumsi dengan cara gratis, berserak dimana-mana seperti surat cinta yang tak pernah sampai pada kekasihnya, bahan lelucon bagi pemilik seni sejati, sepertinya ini seniku, seni yang paling murah yang tak laku di pasaran, siapa yang akan membelinya, aku menuggu 24 jam lamanya tak ada yang mendatanginya bahkan meliriknya saja tidak, akhirnya terpaksa aku obral 500 rupiah dapat tiga, sesekali seseorang melirik tapi terus berlalu dan pada waktu yang sudah begitu larut seorang wanita datang membelinya dengan harga 500 rupiah itupun masih menawar untuk mendapat bonus 1, katanya untuk oleh-oleh anaknya, ya terpaksa aku memberinya sebab sudah 3 hari seniku tak laku-laku. begitu murahnya seniku ini tentu saja takakan ada harganya jika harus membeli lukisan wajahmu yang dilukisnya.

Aku mencoba cara baru supaya seniku patut untuk ditukar oleh seni miliknya yang bertemakan kamu, dengan cara cemburu yang paling menyiksaku, aku buat seni ini dengan hururuf-huruf seperti tetesan gerimis yang romantis, setiap katanya mencoba menerjemahkan betapa sendunya lagit sebab sudah sekian waktu hanya bisa memandang wajah tanah tanpa bisa menyentuh apalagi mencium keningnya, aku rasakan berlahan, mengoreskan seni dengan cara paling susah yang pernah aku buat sebelumnya, perlahat otakku mulai berantakan, mana yang harus aku sambungkan antara warna merah dan putih, kuning dan hitam supaya berpadu dan melahirkan keindahan bagi siapa saja, otakku semakin kacau saat merangkai bunyi mana yang pas untuk lirik yang halus dan keras, sesekali aku merenug membayangkan betapa mahalnya seniku ini jika sudah mampu ditukar oleh lukisan wajahmu walau hanya dengan lukisan siluet wajahmu yang bagiku itu lukisan paling jelek yang pernah ia buat untukmu, aku tersenyum betapa bahagianya aku memeluk lukisan siluit wajahmu, betapa gahagianya aku saat lukisan siluet wajahmu itu menempel di dinding kamarku, aku bisa mandangnya sebelum tidur yang biyasanya aku tak pernah bersemangat untuk tidur karena masih tekun dengan seniku yang tak laku-laku.

Seniku dengan rasa paling cemburu yang pernah aku miliki, masih tercecer di meja warung kopi yang tak pernah tidur, seniku masih belum usai dalam peroses penyaringan supaya terasa halus dan lembut, seniku masih mencari jasat kapan akan bersatu, seniku masih mencari rumah kapan akan diantarkanya pulang. Aku sudah gila setengah mati walau seniku ini belum selesai ku bikin, apa lagi yang harus kumasukkan ke dalam seniku ini, apa darahku sendiri harus ikut serta mewarnai, apa aku sendiri yang harus masuk dalam seni karyaku ini supaya terlihat hidup, jika dengan hal itu mampu menarik harga jual yang tinggi dan mampu ditukar dengan lukisan wajahmu tentu saja aku tak mau sebab bagaimana aku akan memiliki lukisan wajahmu jika aku sendiri telah masuk dalam karya seniku, tidak mungkin dan memang tidak boleh sebab ini seni tuhan yang sepandai-pandai ia dalam berseni takkan mampu menciptakan kenyataan seni seperti tubuhku ini.

Seniku telah jadi, yang terbuat dari bahan cemburu paling menyedihkan yang pernah ada, ini aku kirim lewat email untuk di lelang di negeri seni tempat seniman bertahan hidup dan kaya termasuk seniman yang telah melukis wajahmu dengan sempurna, aku tunggu konfirmasi beberapa hari ini tapi tak kunjung datang  sampai kemanapun aku menjumpai aktivitas yang padat seperti biyasa, HPku tak pernah lepas dari gengaman berharap ada kabar tentang seniku yang  sudah aku kirim tiga hari yang lalu, aku tak akan tidur sebelum nasib seniku berkabar, apa sudah terjual atau masih terdampar tak berguna seperti sampah di pantai negeri seni. Aku sangat kawatir bagaimana nasib seniku yang sudah aku sisipkan separuh hidupku padanya supaya terlihat hidup dan mampu memangil siapa saja yang lewat. Malam-malam satu persatu telah usai dengan rasa gelap dan pahit seperti kopi yang bersahaja menahan mataku supaya tetap tegar, namun belum ada kabar tentang seniku.

Senin hari aku termenug sendiri, masih menuggu kabar tentang seniku yang ku buat dengan bahan  cemburu yang sudah ku sisipkan separuh jiwaku di sana supaya nampak hidup dan bisa memangil siapa saja yang lewat.

Selasa sore aku mencoba menerjemahkan lagi apa ada arti yang salah dalam seni yang kubuat dengan bahan cemburu yang aku kirim ke negeri senja, tidak ada yang kurang, semunya sempurna sama persis seperti yang ku inginkan.

Rabo dini hari, aku jatuh sakit terkolek lemah di kasur kamarku yang penuh gambar pulau karena rasa asin dari peluhku, mungkin ini efek dari kekawatirkanku pada seniku yang aku kirim ke negeri seni beberapa minggu yang lalu tapi belum menemukan kejelasan.

Kamis waktu senja, aku berkelana menikmati suasana romantisnya langit pada bumi, laut dan pepohonan, sambil membayangkan andai seniku sama seperti senja itu pasti sangat mahal dan mampu ditukar dengan lukisan wajahmu bahkan denganmu yang asli.

Jum’at seusai khotbah, aku berdo’a supaya seniku bisa kembali dengan selamat walau tak ada yang berminat membelinya biarkan saja aku sendiri yang menikmati karya seniku ini yang sudah aku sisipkan seperuh jiwaku.

Saptu malam hujan sangat lebat, aku berdiam diri mendekam di kasur yang sudah bersih, sambil mendengarkan lagi-lagu hujan yang membuat aku teringat pada seniku yang aku kirim ke negeri senja, kasiahan sekali seniku memangil-magil namaku ingin pulang.

Minggu saat semua rumah sepi ditinggal tuanya pergi, aku masih sama mendekap guling dan merasakan semua begitu senyap serasa semunya mati sampai aku tertidur dan bermimpi bertemu seniku di alam lain yang begitu gelap tapi seniku bemberi cahaya seperti kilatan petir yang membuat aku terbangun. Aku bergetar ketakutan apa yang terjadi apa seniku terbuang di negeri seni dan tidak diakui sebagai karya seni atau apa sudah berjumpa dengan pembelinya dengan bayaran murah yang hanya cukup untuk membayar uang pajak pemasangan iklanya di media-media. Jujur aku sangat takut kemana kamu pergi seniku yang ku buat dengan bahan cemburu  yang menghabiskan air sumber dari endapan luka yang sudah lima tahun aku rawat dengan sengaja supaya aku bisa melahirkan seni paling mengetarkan esok hari nanti. Aku bingung setengah mati dan hari ini aku putuskan untuk menjemputmu ke negeri seni dan berjanji akan menemukanmu lagi dan merombaknya ulang penuh penghayatan dan pemikiran supaya tidak disepelekan lagi.

Aku berangkat sore kearah senja yang memang di sanalah negeri seni bersemayam, dengan do’a supaya tidak terjadi hujan sebab jika hujan datang tentu aku akan kehilangan arah  dan tersesat. Jika malam tiba arah menuju negeri senja adalah seperti bintang berbentuk cancer, aku lalui malam dengan pikiranku yang tak pernah lepas bagai mana nasib seniku yang berbahan cemburu itu, apa dia sedang sakit atau jangan-jangan sudah mati, Tidak mungkin sebab jika ia mati tentu aku akan merasa separuh hidupku juga mati sebab separuh jiwaku sudah aku sisipkan pada seniku. “Ah sudahlah” aku menepis kekawatiranku dan mencoba berfikir nolmal seperti tidak terjadi apa-apa.

Aku bertemu pagi di petigaan mentari yang cahayang adalah kesejukan bagi semua pejalan, aku putuskan untuk beristirahat sejenak di bawah pohon berigin yang sudah mulai menua karena daunya sangat jarang, aku menikmati belaian embut yang bersenandung dengan rumput yang menyayikan lagu selamat pagi yang tak pernah bosan di dengar para petani yang menyandang cangkul ke sawah dan gadis-gadis sma yang begitu bersemangat menuggu kekasihnya untuk berangkat ke sekolah, aku terbawa suasana sampai aku hanyut pada masaku dulu pada masa aku masih sebagai laki-laki lugu dan manis yang belum tau membuat seni dan berjuang hidup untuk seni, sebab pada waktu itu tanpa seni aku sudah bisa menikmatimu dengan nyata, bukan dengan lukisan apalagi siluet lukisan wajahmu. Aku benar-benar memilikimu, merangkulmu, menciummu, menikmuati aroma nafasmu, keringatmu dengan nyata dan begitu terang tanpa harus menciptakan seni yang harus terjual terlebih dahulu.

Betapa bahagiyanya aku waktu itu,ah sudahlah itu adalah tisu kumal seperti bekas hujan yang menyisakan genagan. Ya itu adalah rangkuman pelajaran, aku semakin resah dan tak karuan seperti orang gila yang berbicara sendiri dan pada waktu yang sama aku di sadarkan  oleh lubang besar di tubuh pohon beringin tua aku memandangnya menelusuri lubangnya dan meronggohnya aku kaget ketika taganku menyentuh benda halus berbulu yang rasanya sangat dingin tapi serasa nyaman sekali, apa ini.? Aku mengambilnya dan mengeluarkanya dari lubang besar itu, mataku terbelalak tak percaya inilah yang aku cari selama ini aku memandang tak percaya apa yang sudah aku pegang ini bahan seni yang di wasiatkan nenek moyang seni terdahulu. Ya inilah bahanya, permata seni yang sesunguhnya sebuah Sejarah dan Kenagan yang harus di bawa pada karya seni yang akan datang yang akan menciptakan kehidupanku pada kewajaran dengan wajah seni yang sesunguhnya.

Dan di sinilah akhirnya aku menemukan jalan menuju seniman sejati melebihi seniman yang melukis wajahmu, inilah kekurangan dari karya seniku yang berbahan cemburu yang aku kirim ke negeri seni, yang sekarang telah hilang dan lenyap, itulah bahanya aku sudah menemukanya harus segera aku simpan dalam dokumen catatan seni sepaya aku bisa merombak ulang dan memperbaikinya agar seniku ini menjadi karya seni yang benar-benar seni, yang mengetarkan dan menegelamkan siapa saja yang ingin membelinya, dan bahkan pada semarak lelang seni, para seniman-seniman kaya akan berebutan menawarkan harga mahal untuk seniku dan tentu seniman yang melukis wajahmu itu akan segera menawarkan supaya karya seniku ditukar dengan lukisan wajahmu bahkan kamu yang asli.

Sekarang aku harus melanjutkan perjalananku mencari karya seniku yang hilang di negeri seni dengan penuh semagat  dan senyum yang permanen sambil bernyanyi riang dan menyapa siapa saja yang ku jumpai. Ya aku seperti remaja yang sedang jatuh cinta lagi.

Toriq fahmi
Surabaya 270313.04:18AM 

Senin, 25 Maret 2013

Perempuan Hujan



Kemarin sore ku tatap wajahmu di balik hujan yang menawarkan kerinduan pada kekasihnya, ia menaruh harapan bertemu tanahnya dan ingin membuat genagan tempat bermain anak-anak kodok, tempat persengamaan nyamuk yang melahirkan jentik-jentik hitam kepalsuan, kepalsuan tawa, senyuaman atau bahagia yang ditawarkan pada rumput-rumput yang menghisapnya mesrah.

Wajahnya memantul dalam genangan , bergelombang saat kaki-kaki hujan melangkah tanpa jalan, semakin cepat langkahnya semakin mennyisakan jejak genagannya di tanah, di mana-mana ada genagan, apalagi di jalanmu bekas jejakmu yang kau lintasi setiap pagi saat kau berangkat sekolah, semakin banyak genagan semakin banyak pula wajahmu, wajahmu ada di mana-manan, di bawah hujan, di atas hujan, di sisi hujan, di tengah-tengah hujan dan bahkan di wajah hujan itu sendiri, wajahmu hadir seperti hujan adalah kamu sendiri.

Wajahmu, wajahmu, wajahmu adalah milik hujan, di sukai hujan, di cintai hujan, di gauli oleh hujan, hujan sangat senag denganmu, hujan bahagia, hujan tertawa, tersedu penuh haru,menagis dengn lugu, semaikin hujan semakin banyak genagan. Genagan penuh wajahmu membuat hujan semakin hujan, deras menciummu seperti ribuan tahun tak jumpa.

hujan semaikin hujan menyisakan genagan penuh wajahmu, wajahmu di mana-mana seperti hujan di mana-mana yang membuat genagan di mana-mana, di mana-mana ada genagan, rumahku penuh genagan sengaja ku biarkan hujan bertamu, agar aku bisa menikmati wajahmu dari genagan hujan.

Hujan semakin hujan membuat genagan, huajan semakin hujan  tak lagi menyisakan jejak genagan tempat bermain anak-anak kodok, tempat persengamaan nyamuk yang melahirkan jentik-jentik hitam kepalsuan, hujan semakin hujan membuat genagan semakin mengenag, menegelamkan negerimu, menegelamkan kotamu  dan segera menegelamkan rumahmu. tengelam semuanya dalam genagan hujan yang kini sudah menegelamkan tubuhmu dengan kenyataan hujan yang benar-benar hujan, bukan lagi sebagai bayangan wajahmu, tapi ini benar-benar kamu yang tengalam dan sekarang kenyataan telah memilih hujan untuk memilikimu dengan sempurna.

Hujan, hujan, hujan, hujan tak akan pernah meredah sampai hujan sendiri tengalam dalam genagan hujan. Hujan yang benar-benar nyata tapi entah hujan yang menegelamkan genagan hujan itu hujan milik siapa.

Toriq fahmi
Surabaya. 260313