Rabu, 10 April 2013

12 : 00

Jumpai aku pada dasar kekecewaanku lantaran aku tak mampu menyambutmu dengan berani dan jantan, sekiranya nanti kau telah ku kenal dengan tatapanku yang jujur maka izinkan jika aku menuliskan namamu pada dinding-dinding kamarku yang masih polos, membuat waktu dimana aku akan tertidur dan bermimpi dengan suasana gerimis yang mendudukkan kita berdua pada gazebo berbentuk bundar, bermimpi sedalam yang ku bisa sampai aku benar-benar tengelam dalam lukisanmu, kau akan melukisku dengan tatapan membunuh yang ku sebut itu cara senimu yang paling bagus dan mahal.

Izinkan aku mengenalmu, tolong izinkanlah, sebentar saja hadirlah pada meja bundarku dan kursi yang sudah aku siapkan kusus buatmu yang Berukiran ala seniman yang sedang menemukan inspirasi liar tentang sebuah wajah, tentang sosok wanita, tentang kesenagan yang sendang menjalar pada pemukiman-pemukiman waktu yang gersang, betapa mujurnya mataku jika bertemu dengan matamu, betapa beruntungnya tanganku jika sudah bertemu dengan tanganmu. Kapan kita akan berjumpa lagi dan mendiskusikan tentang perkenalan kita ini, aku menuggunya sampai nanti aku telah lelah.

Sekarang yang ada hanyalah kesempitan, tak ada ruang bagaimana aku akan mendiskusikan tentang sebuah tulisan, tulisan yang terbuat dari rasa penasaran, tulisan yang ngawur sebab tak ada cara yang tepat  bagai mana aku akan menemuimu lagi.

Besok pukul 12:00 aku akan kembali mengngintipmu dari cela-cela cahaya yang masuk di mataku, memotretmu dengan mataku lalu kukirimkan pesan pada perasaan bahwa aku sealalu berdiam pada tempat yang sama di waktu yang sama, tepat pukul 12:00.

Besok pukul 12:00 aku kembali hadir di ruang ini, mengamatimu dari cela-cela jendela mataku, merenugimu seberapa dalam aku ingin menjumpaimu, lalu dengan sumringah aku akan menulis untukmu, menuliskan satu sajak harian bernama kamu dengan akhir tulisan Surabaya 12:00.

Toriq Fahmi
Surabaya 111413. 12:00 AM

Sabtu, 06 April 2013

MATAKU, MATA MALAM


Ada mata  malam yang sudah tengelam, menyisakan hujan dengan langkahnya yang basah
Malam ini begitu sembab menyisakan mataku yang berjalan seperti pagi biyasanya
Matahari akan tiba dan takakan pernah ingkar janji.

Seperti aku yang datang pada malam-malamu yang sunyi dan dingin membuat waktu berupa kamu
Hanya kamu dan memang masih kamu pemilik segala hal yang ada pada hidup dan matiku
Bagaimana lagi aku akan membuat waktu dimana matamu akan memandangku seperti mata yang dulu
Menaungi dan merengkuh seluruh hari-hariku bernuansa mawar yang kau tabur di atas pekuburan.

Entahlah, memang masih kamu pemilik segalahal yang ada pada hidup dan matiku
biarkan semuanya kutebar rasa hidup dan matiku ke seluruh waktu bahwa aku masih membayangimu
memberi nama pada setiap jejaknya sebagai bekas kenagan bahwa aku masih sama sebagai kamu

Ada mata malam yang sudah tengelam, menyisakan genagan bekas air hujan semalam
Malam ini begitu sendu sama seperti mataku yang telah melayu
Matahari akan tiba dan tak akan pernah ingkar janji

Toriq Fahmi
Surabaya. 060413. 02:07 AM

Selasa, 26 Maret 2013

RAHASIA SENI

Bukan bagaimana aku cemburu yang melahirkan kisah cantik tentang seorang memimpi ulung yang tak pernah tertidur saat malam telah begitu tua dan akan segera mati, tapi beginilah cara waktu bekerja untuk sosok yang tak pernah malu pada siapapun sebab baginya ini adalah jalanya, jalan bagaimana ia akan berfikir dewasa, menentang pekatnya malam dengan ribuan sajak yang ditulis dengan cara sembarang. Aku cemburu pada sang pelukis, aku cemburu padang sang interprener yang menatapmu dengan cara yang benar dan sempurna, walau belum ku temukan kebenaranya apakah dia benar-benar tulus memujamu.


Ia melukis untukmu dengan cara hati yang benar-benar serius, meniggalkan masa kecilnya yang usang dan menciptakan mimpinya dengan cara yang sunguh-sunguh sampai pada waktu yang menjemputnya untuk hidup penuh istimewa, membuat waktu sendiri dimana hidupnya adalah seni, seni yang mengantarkan pada dunia bermata mahal, sebagai kehidupan baru yang lebih dewasa dan benar-benar bisa dikatakan kehidupan yang sesungguhnya, ia mengatur jiwanya dengan cara seni yang sudah matang dan terjual, semuanya untukmu bahan seni yang nyata baginya. 

Bermula dari seni, ia kirimkan seni untukmu, seni paling mulus yang menjual jiwanya untukmu, menjatuhkan purnama-purnama yang telah using baginya, menjumpaimu dengan cara seni, mendekatimu dengan cara seni, bembuat cinta untukmu dengan cara seni, menyentuh dan menciummu dengan cara seni yang paling mahal dan takkan pernah terjual, kau terjatuh dengan kesenian menjemputnya dengan cara seni pula walau masih tertatih menerjemahkanya, ikut tertawan dan menyediakan tempat untuk melukis dalam jiwamu, menghidupimu dengan jaji seni yang paling agung, kau telah bahagia dengan cara seni, seni yang indah, seni yang menawan, seni yang massaallah dan seni yang telah merubahmu begitu cantik sebab dia telah ribuan kali melukismu di lagit-langit, di dinding kamarnya di setiap jemarinya yang pandai mengores wajahmu sudah bertatokan namamu pula, mau apalagi bahkan pada setiap hidupnya sudah penuh oleh lukisan wajahmu. Diam-diam telah ku tawar lukisan itu dengan harga seniku yang paling mahal tapi tetap saja tak mampu ku belinya dan seniku masih terkesan murahan dan taklaku baginya sebab ia tau seniku takkan mampu menghidupimu dengan cara seni  seperti seni miliknya, sebab itulah kau begitu cantik baginya apalagi untukku.

Ini seniku mengambarkan kecemburuan pada sang pemilik seni sejati karena sudah mampu menciptakan seni paling mahal dalam hidupnya itulah kamu, bagai mana aku akan bicara tentang kamu sedang seni-seniku masih dikonsumsi dengan cara gratis, berserak dimana-mana seperti surat cinta yang tak pernah sampai pada kekasihnya, bahan lelucon bagi pemilik seni sejati, sepertinya ini seniku, seni yang paling murah yang tak laku di pasaran, siapa yang akan membelinya, aku menuggu 24 jam lamanya tak ada yang mendatanginya bahkan meliriknya saja tidak, akhirnya terpaksa aku obral 500 rupiah dapat tiga, sesekali seseorang melirik tapi terus berlalu dan pada waktu yang sudah begitu larut seorang wanita datang membelinya dengan harga 500 rupiah itupun masih menawar untuk mendapat bonus 1, katanya untuk oleh-oleh anaknya, ya terpaksa aku memberinya sebab sudah 3 hari seniku tak laku-laku. begitu murahnya seniku ini tentu saja takakan ada harganya jika harus membeli lukisan wajahmu yang dilukisnya.

Aku mencoba cara baru supaya seniku patut untuk ditukar oleh seni miliknya yang bertemakan kamu, dengan cara cemburu yang paling menyiksaku, aku buat seni ini dengan hururuf-huruf seperti tetesan gerimis yang romantis, setiap katanya mencoba menerjemahkan betapa sendunya lagit sebab sudah sekian waktu hanya bisa memandang wajah tanah tanpa bisa menyentuh apalagi mencium keningnya, aku rasakan berlahan, mengoreskan seni dengan cara paling susah yang pernah aku buat sebelumnya, perlahat otakku mulai berantakan, mana yang harus aku sambungkan antara warna merah dan putih, kuning dan hitam supaya berpadu dan melahirkan keindahan bagi siapa saja, otakku semakin kacau saat merangkai bunyi mana yang pas untuk lirik yang halus dan keras, sesekali aku merenug membayangkan betapa mahalnya seniku ini jika sudah mampu ditukar oleh lukisan wajahmu walau hanya dengan lukisan siluet wajahmu yang bagiku itu lukisan paling jelek yang pernah ia buat untukmu, aku tersenyum betapa bahagianya aku memeluk lukisan siluit wajahmu, betapa gahagianya aku saat lukisan siluet wajahmu itu menempel di dinding kamarku, aku bisa mandangnya sebelum tidur yang biyasanya aku tak pernah bersemangat untuk tidur karena masih tekun dengan seniku yang tak laku-laku.

Seniku dengan rasa paling cemburu yang pernah aku miliki, masih tercecer di meja warung kopi yang tak pernah tidur, seniku masih belum usai dalam peroses penyaringan supaya terasa halus dan lembut, seniku masih mencari jasat kapan akan bersatu, seniku masih mencari rumah kapan akan diantarkanya pulang. Aku sudah gila setengah mati walau seniku ini belum selesai ku bikin, apa lagi yang harus kumasukkan ke dalam seniku ini, apa darahku sendiri harus ikut serta mewarnai, apa aku sendiri yang harus masuk dalam seni karyaku ini supaya terlihat hidup, jika dengan hal itu mampu menarik harga jual yang tinggi dan mampu ditukar dengan lukisan wajahmu tentu saja aku tak mau sebab bagaimana aku akan memiliki lukisan wajahmu jika aku sendiri telah masuk dalam karya seniku, tidak mungkin dan memang tidak boleh sebab ini seni tuhan yang sepandai-pandai ia dalam berseni takkan mampu menciptakan kenyataan seni seperti tubuhku ini.

Seniku telah jadi, yang terbuat dari bahan cemburu paling menyedihkan yang pernah ada, ini aku kirim lewat email untuk di lelang di negeri seni tempat seniman bertahan hidup dan kaya termasuk seniman yang telah melukis wajahmu dengan sempurna, aku tunggu konfirmasi beberapa hari ini tapi tak kunjung datang  sampai kemanapun aku menjumpai aktivitas yang padat seperti biyasa, HPku tak pernah lepas dari gengaman berharap ada kabar tentang seniku yang  sudah aku kirim tiga hari yang lalu, aku tak akan tidur sebelum nasib seniku berkabar, apa sudah terjual atau masih terdampar tak berguna seperti sampah di pantai negeri seni. Aku sangat kawatir bagaimana nasib seniku yang sudah aku sisipkan separuh hidupku padanya supaya terlihat hidup dan mampu memangil siapa saja yang lewat. Malam-malam satu persatu telah usai dengan rasa gelap dan pahit seperti kopi yang bersahaja menahan mataku supaya tetap tegar, namun belum ada kabar tentang seniku.

Senin hari aku termenug sendiri, masih menuggu kabar tentang seniku yang ku buat dengan bahan  cemburu yang sudah ku sisipkan separuh jiwaku di sana supaya nampak hidup dan bisa memangil siapa saja yang lewat.

Selasa sore aku mencoba menerjemahkan lagi apa ada arti yang salah dalam seni yang kubuat dengan bahan cemburu yang aku kirim ke negeri senja, tidak ada yang kurang, semunya sempurna sama persis seperti yang ku inginkan.

Rabo dini hari, aku jatuh sakit terkolek lemah di kasur kamarku yang penuh gambar pulau karena rasa asin dari peluhku, mungkin ini efek dari kekawatirkanku pada seniku yang aku kirim ke negeri seni beberapa minggu yang lalu tapi belum menemukan kejelasan.

Kamis waktu senja, aku berkelana menikmati suasana romantisnya langit pada bumi, laut dan pepohonan, sambil membayangkan andai seniku sama seperti senja itu pasti sangat mahal dan mampu ditukar dengan lukisan wajahmu bahkan denganmu yang asli.

Jum’at seusai khotbah, aku berdo’a supaya seniku bisa kembali dengan selamat walau tak ada yang berminat membelinya biarkan saja aku sendiri yang menikmati karya seniku ini yang sudah aku sisipkan seperuh jiwaku.

Saptu malam hujan sangat lebat, aku berdiam diri mendekam di kasur yang sudah bersih, sambil mendengarkan lagi-lagu hujan yang membuat aku teringat pada seniku yang aku kirim ke negeri senja, kasiahan sekali seniku memangil-magil namaku ingin pulang.

Minggu saat semua rumah sepi ditinggal tuanya pergi, aku masih sama mendekap guling dan merasakan semua begitu senyap serasa semunya mati sampai aku tertidur dan bermimpi bertemu seniku di alam lain yang begitu gelap tapi seniku bemberi cahaya seperti kilatan petir yang membuat aku terbangun. Aku bergetar ketakutan apa yang terjadi apa seniku terbuang di negeri seni dan tidak diakui sebagai karya seni atau apa sudah berjumpa dengan pembelinya dengan bayaran murah yang hanya cukup untuk membayar uang pajak pemasangan iklanya di media-media. Jujur aku sangat takut kemana kamu pergi seniku yang ku buat dengan bahan cemburu  yang menghabiskan air sumber dari endapan luka yang sudah lima tahun aku rawat dengan sengaja supaya aku bisa melahirkan seni paling mengetarkan esok hari nanti. Aku bingung setengah mati dan hari ini aku putuskan untuk menjemputmu ke negeri seni dan berjanji akan menemukanmu lagi dan merombaknya ulang penuh penghayatan dan pemikiran supaya tidak disepelekan lagi.

Aku berangkat sore kearah senja yang memang di sanalah negeri seni bersemayam, dengan do’a supaya tidak terjadi hujan sebab jika hujan datang tentu aku akan kehilangan arah  dan tersesat. Jika malam tiba arah menuju negeri senja adalah seperti bintang berbentuk cancer, aku lalui malam dengan pikiranku yang tak pernah lepas bagai mana nasib seniku yang berbahan cemburu itu, apa dia sedang sakit atau jangan-jangan sudah mati, Tidak mungkin sebab jika ia mati tentu aku akan merasa separuh hidupku juga mati sebab separuh jiwaku sudah aku sisipkan pada seniku. “Ah sudahlah” aku menepis kekawatiranku dan mencoba berfikir nolmal seperti tidak terjadi apa-apa.

Aku bertemu pagi di petigaan mentari yang cahayang adalah kesejukan bagi semua pejalan, aku putuskan untuk beristirahat sejenak di bawah pohon berigin yang sudah mulai menua karena daunya sangat jarang, aku menikmati belaian embut yang bersenandung dengan rumput yang menyayikan lagu selamat pagi yang tak pernah bosan di dengar para petani yang menyandang cangkul ke sawah dan gadis-gadis sma yang begitu bersemangat menuggu kekasihnya untuk berangkat ke sekolah, aku terbawa suasana sampai aku hanyut pada masaku dulu pada masa aku masih sebagai laki-laki lugu dan manis yang belum tau membuat seni dan berjuang hidup untuk seni, sebab pada waktu itu tanpa seni aku sudah bisa menikmatimu dengan nyata, bukan dengan lukisan apalagi siluet lukisan wajahmu. Aku benar-benar memilikimu, merangkulmu, menciummu, menikmuati aroma nafasmu, keringatmu dengan nyata dan begitu terang tanpa harus menciptakan seni yang harus terjual terlebih dahulu.

Betapa bahagiyanya aku waktu itu,ah sudahlah itu adalah tisu kumal seperti bekas hujan yang menyisakan genagan. Ya itu adalah rangkuman pelajaran, aku semakin resah dan tak karuan seperti orang gila yang berbicara sendiri dan pada waktu yang sama aku di sadarkan  oleh lubang besar di tubuh pohon beringin tua aku memandangnya menelusuri lubangnya dan meronggohnya aku kaget ketika taganku menyentuh benda halus berbulu yang rasanya sangat dingin tapi serasa nyaman sekali, apa ini.? Aku mengambilnya dan mengeluarkanya dari lubang besar itu, mataku terbelalak tak percaya inilah yang aku cari selama ini aku memandang tak percaya apa yang sudah aku pegang ini bahan seni yang di wasiatkan nenek moyang seni terdahulu. Ya inilah bahanya, permata seni yang sesunguhnya sebuah Sejarah dan Kenagan yang harus di bawa pada karya seni yang akan datang yang akan menciptakan kehidupanku pada kewajaran dengan wajah seni yang sesunguhnya.

Dan di sinilah akhirnya aku menemukan jalan menuju seniman sejati melebihi seniman yang melukis wajahmu, inilah kekurangan dari karya seniku yang berbahan cemburu yang aku kirim ke negeri seni, yang sekarang telah hilang dan lenyap, itulah bahanya aku sudah menemukanya harus segera aku simpan dalam dokumen catatan seni sepaya aku bisa merombak ulang dan memperbaikinya agar seniku ini menjadi karya seni yang benar-benar seni, yang mengetarkan dan menegelamkan siapa saja yang ingin membelinya, dan bahkan pada semarak lelang seni, para seniman-seniman kaya akan berebutan menawarkan harga mahal untuk seniku dan tentu seniman yang melukis wajahmu itu akan segera menawarkan supaya karya seniku ditukar dengan lukisan wajahmu bahkan kamu yang asli.

Sekarang aku harus melanjutkan perjalananku mencari karya seniku yang hilang di negeri seni dengan penuh semagat  dan senyum yang permanen sambil bernyanyi riang dan menyapa siapa saja yang ku jumpai. Ya aku seperti remaja yang sedang jatuh cinta lagi.

Toriq fahmi
Surabaya 270313.04:18AM 

Senin, 25 Maret 2013

Perempuan Hujan



Kemarin sore ku tatap wajahmu di balik hujan yang menawarkan kerinduan pada kekasihnya, ia menaruh harapan bertemu tanahnya dan ingin membuat genagan tempat bermain anak-anak kodok, tempat persengamaan nyamuk yang melahirkan jentik-jentik hitam kepalsuan, kepalsuan tawa, senyuaman atau bahagia yang ditawarkan pada rumput-rumput yang menghisapnya mesrah.

Wajahnya memantul dalam genangan , bergelombang saat kaki-kaki hujan melangkah tanpa jalan, semakin cepat langkahnya semakin mennyisakan jejak genagannya di tanah, di mana-mana ada genagan, apalagi di jalanmu bekas jejakmu yang kau lintasi setiap pagi saat kau berangkat sekolah, semakin banyak genagan semakin banyak pula wajahmu, wajahmu ada di mana-manan, di bawah hujan, di atas hujan, di sisi hujan, di tengah-tengah hujan dan bahkan di wajah hujan itu sendiri, wajahmu hadir seperti hujan adalah kamu sendiri.

Wajahmu, wajahmu, wajahmu adalah milik hujan, di sukai hujan, di cintai hujan, di gauli oleh hujan, hujan sangat senag denganmu, hujan bahagia, hujan tertawa, tersedu penuh haru,menagis dengn lugu, semaikin hujan semakin banyak genagan. Genagan penuh wajahmu membuat hujan semakin hujan, deras menciummu seperti ribuan tahun tak jumpa.

hujan semaikin hujan menyisakan genagan penuh wajahmu, wajahmu di mana-mana seperti hujan di mana-mana yang membuat genagan di mana-mana, di mana-mana ada genagan, rumahku penuh genagan sengaja ku biarkan hujan bertamu, agar aku bisa menikmati wajahmu dari genagan hujan.

Hujan semakin hujan membuat genagan, huajan semakin hujan  tak lagi menyisakan jejak genagan tempat bermain anak-anak kodok, tempat persengamaan nyamuk yang melahirkan jentik-jentik hitam kepalsuan, hujan semakin hujan membuat genagan semakin mengenag, menegelamkan negerimu, menegelamkan kotamu  dan segera menegelamkan rumahmu. tengelam semuanya dalam genagan hujan yang kini sudah menegelamkan tubuhmu dengan kenyataan hujan yang benar-benar hujan, bukan lagi sebagai bayangan wajahmu, tapi ini benar-benar kamu yang tengalam dan sekarang kenyataan telah memilih hujan untuk memilikimu dengan sempurna.

Hujan, hujan, hujan, hujan tak akan pernah meredah sampai hujan sendiri tengalam dalam genagan hujan. Hujan yang benar-benar nyata tapi entah hujan yang menegelamkan genagan hujan itu hujan milik siapa.

Toriq fahmi
Surabaya. 260313

Selasa, 19 Maret 2013

Antara Rusuk dan Rusuk


“Cintai aku seperti kau mencintai kekasihmu dan sayangilah aku seperti kau menyayangi pacarmu, dengan ini maka bulat sudah keinginanku bahwa hari-hariku akan semakin rumit dan kacau, aku suka pada keadaan demikian sebab pada waktu itu aku akan berselingkuh dengan gerimis melahirkan mata-mata rindu dengan sangat romantis”.
Aku sudah lama mati sama seperti lampu kamarmu yang kau matikan ketika menjelang tidurmu. Pada waktu ku yang mati saat matamu sudah mulai mati aku hidup kembali, menjadi kamu, kamu dengan wajah gelap seperti kamarmu yang gelap, bertubuh senyap seperti kamarmu yang senyap. Sesunguhnya ini aku menjelma kamu agar kau tahu bahwa aku adalah kamu walau memang  jasat tubuhmu bukan milikku, aku yang menjadi kamu melihat wajah mu dan mencoba memahami bibirmu yang tenag dan matamu yang terpejam kau sedang bermimpi apa dan dengan siapa.? Apa aku hidup dalam tidurmu atau jangan-jangan kau sedang bersama laki-laki itu, membuat hidup yang baru dengan dunia baru  yang kau beri nama seperti nama laki-lakimu itu, duniamu denganya yang keindahanya tak bisa aku temui di dunia ini.

Aku masih sebagai kamu, menjelma kamu dengan rasa yang telah lama mati mengusap lembut rambutmu mencoba memahami setiap helainya, inilah waktumu yang akan kau habiskan, tapi entah dengan siapa? Apa aku hidup dalam anganmu atau jangan-jangan aku hanya menjadi sepucuk surat yang mengatarkan rindumu pada kekasihmu, manjadikanku kata-kata penantian yang paling kau tunggu massa pertemuannya, kau tulis dan kau lipat dengan harapan bahwa hidupmu memang untuknya.

Aku masih menjelma kamu, memeluk erat tubuhmu, menciumi wajahmu, lehermu dan merasakan aroma nafas tubuhmu meraba-raba tubuhmu yang terbungkus baju tidurmu, maaf pelan-pelan aku mulai membuka bajumu, maaf aku tidak bermaksut apa-apa hanya saja aku ingin tahu apakah salah satu tulang rusukmu sama dengan tulang rusukku.?  Satu persatu aku meraba rusuk mu dengan halus dan menyamakan dengan rusuk ku, tidak ada sayang, lebih tepatnya tidak jelas karena terbungkus kulitmu yang halus, aku tak tega jika aku harus melukaimu dengan pisau hanya karena ingin tau apakah rusuk mu sama denagnku. Ahh..sudahlah tidurlah yang lelap besok saja jika aku sudah benar-benar  buakan sebagai kamu.

Aku yang sebagai kamu walau belum tahu apa rusukku sama denganmu, menikmati  sisa waktu ku yang sebagai kamu sebelum kau terbangun dari mimpimu dengan rasa nyaman dan tentaram walau aku tak pernah tau mimpimu seperti apa dan bersama siapa.

Aku yang sebagai kamu walau belum tahu apa rusukmu sama denganku, menikmati  sisa waktuku yang sebagai kamu  degan rasa halus dan lembut sampai kutemukan agan-aganmu yang sebenarnya  sebelum setiap helai rambutmu memutih.

Aku adalah kamu walau belum kutemukan kebenaran dari rusukmu dan rusukku, menikmati sisa waktuku yang sepertinya adalah kamu dengan rasa puas dan nikmat sebelum esok kau menjumpai tubuhmu telah telanjang dada dan kau merasa harus keramas dan bersuci sebab menikmati persengamaan tadi malam.


Toriq fahmi
Surabaya, 200313.3:08 Am


Senin, 18 Maret 2013

KEBENARAN DALAM PUISI

Oleh: Toriq Fahmi

"Puisi lebih mendekati kebenaran dibandingkan dengan sejarah" Plato
Puisi, bagi banyak orang adalah kearifan dalam tindak tutur yang melahirkan keinginan secara trasparan. Cinta, keadilan, sosial, alam dan juga budaya telah mendifinisikan sebuah puisi sebagai do’a para dewa yang ada pada diri setiap manusia sehingga disebut sebagai sebuah kebenaran. Puisi adalah kejujuran, sebuah do’a yang sebenarnya, do’a bukan berarti bagaimana seseorang itu meminta dan bersukur tapi do’a yang sebenarnya adalah bagaimana seseorang  bisa mengeluarkan hal-hal yang paling intim dalam dirinya. Dalam tahap ini maka lahirlah ungkapan puitis yang tidak disadari sebab sebuah imajinasi adalah ungkapan perasaan itu sendiri, tanpa merasa manusia tidaklah mampu berfikir apa-apa, perasaan dan imajinasi adalah sebuah ikatan yang tidak bisa dipisahkan. imajinasi tanpa perasaan adalah kosong, perasaan tanpa imajinasi adalah bisu.
Jika digambarkan secara konsep ketuhanan maka akan menghubungkan pada tingkatan “Manunggaling Kawula Gusti” milik Syekh Siti Jenar sebuah Ajaran metafisika meliputi ontologi, kosmogoni dan antropologi. Ontologi berbicara tentang ada dan tidak ada. Dalam hal ini, Syekh Siti Jenar merumuskan tentang the Reality of the Absolute being (hakikat Dzat Yang Maha Suci) yg memiliki sifat, nama dan perbuatan “Kami”. Dari “Kami” inilah kemudian muncul “ada” dan “keadaan” lain, yg sifat hakikinya adalah “Tunggal”. Manusia yg dalam hidupnya di alam kematian dunia ini disebut sebagai khalifatullah (wakil Allah = pecahan ketunggalan Allah), dan kemudian ia harus berwadah dalam bentuk jisim (jasmani) ia harus menyandang gelar “kawula”, sebab jasad harus melakukan aktivitas untuk memelihara jasadnya dari kerusakan dan untuk menunda kematian yg disebut :”ngibadah” kepada yg menyediakan raga (Gusti). Maka kawula hanya memiliki satu tempat kembali, yakni Allah, sebagai asalnya. Maka manusia tidak boleh terjebak dalam wadah yg hanya berfungsi sementara sebagai “wadah” Roh Ilahi. Justru Roh Ilahi inilah yg harus dijaga guna menuju ketunggalan kembali (Manunggaling Kawula Gusti).
Tuhan adalah bentuk ada dari perasaan dan pikiran itu sendiri sebab menurut ilmu tasawuf  tuhan telah mencelupkan diri pada setiap manusia (tuhan lebih dekat dari pada urat nadi) dan tuhan adalah maha benar dan besar karena itu subuah puisi yang lahir merupakan adaptasi dari sifat ketuhanan. Semakin dalam perasaan maka semakin tidak sadar seseorang mengungkapkan dan berbuat sesuatu, dalam artian sebagai berikut “penyair yang sesunguhnya adalah kitika seseorang mengerti perasaan sebuah tisu yang dibuang ke tong sampah”, walaupun tisu hanya sebuah kertas yang tidak memiliki perasaan dan pemikiran. Sangat dalam sekali, inilah yang kemudia di sebut oleh Vici C.Coulter bahwa penyair adalah orang-orang yang menyerupai dewa-dewa atau seseorang yang sangat dekat dengan dewa.
Dari sini kemudian puisi menjadi alat untama penyampaian perasaan cinta terhadap sesuatu yang melahirkan Kalil Gibran ke dunia sebagai sang pencinta sejati, Jaluddin Rumi sebagai penyair sufi yang fenomenal ataupun Rabi’ah yang selama hidupnya tidak menikah Karena ia telah jatuh cinta pada Tuhan-nya sendiri, sepanjang hidupnya hanya untuk Tuhan-nya bahkan setelah kematianya ia lebih memilih untuk hidup di sisi tuhan sebagai istrinya daripada harus hidup di surga.
“Tuhanku. Tenggelamkan diriku ke dalam lautan. Keikhlasan mencintai-M. Hingga tak ada sesuatu yang menyibukkanku. Selain berdzikir kepada-Mu”(Rabi’ah)
Dalam konteks ini kebenaran dalam puisi adalah sebuah tindakan, puisi dikatakan benar ketika ungkapanya itu telah menjadi pengerak bagi dirinya sendiri, logikanya jujur dan benar bisa nampak ketika sudah bergerak, —mana mungkin bisa dikatakan jujur jika hanya berbicara tanpa melakukan. Kemudian, barulah bisa dikatakan bahwa puisi merupakan ungkapan perasaan atau pikiran penyairnya dalam satu bentuk ciptaan yang utuh dan menyatu. Penyatuan antara jiwa dan raga, jiwa yang bersifat spiritual yang kemudian mengerakkan raga untuk bertutur dan bertindak dari sinilah keutuhan dan kesatuan itu diperoleh.
Lalu dalam kebenaran puisi itu sendiri Tuhan telah mewahyukan surat As-syu’ara (para penyair) kepada utusanya Muhammad dan menciptakan kontradiksi dengan mengutuk seorang penyair “Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap-tiap lembah, dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)?. kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali” (Q.S. al-Syu’ara’ : 224-227).
Sama sekali tidak menyalahkan Tuhan ketika Tuhan dengan sangat baik menyebut bahwa penyair adalah orang yang suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakanya, juga bisa di sebut seorang penyair. Padahal syair itu sendiri adalah sebuah kebenaran yang berada pada sisi spiritual manusia. Jika sudah demikin maka harus ada pembeda antar penyair dan syairnya, yang benar adalah syairnya tetapi ketika syair itu hanya sekedar ungkapan tanpa laku maka gelar penyairnya harus di copot sebut saja hanya sebuah omong kosong (gombal) atau lebih kasarnya jangan sebut itu sebuah syair/puisi jika hanya alat untuk mengelabui, maka dari sinilah Al-Quran sangat mutlak kebenaranya bahwa orang-orang seperti itu (sok penyair) hanya diikuti oleh orang-orang yang sesat karena sudah menyalahgunakan istilah penyair dan syair.
Dan lebih khususnya adalah puisi cinta yang memainkan manifestasi seorang penyair yang sadar sebagai makhluk spiritual. Sebagai makhluk sosial, seseorang senantiasa berusaha mengungkapkan kerinduannya akan nilai-nilai spiritual demi menciptakan keutuhan dirinya. Sementara itu nilai-nilai spiritual itu kian hari kian tergerus oleh peradaban modern yang lebih berorientasi pada materialisme dan hedonisme. Di mana orang berlomba-lomba berhasrat dan berusaha apa saja agar memperoleh “kepemilikan benda tertentu” dan mengejar kesenangan sesaat.
Dari hal inilah kemudian bermunculan penyair-penyair palsu yang melahirkan sajak-sajak palsu yang mengatas namakan kebenaran dalam puisi tetapi hanya sebatas kata-kata indah tanpa didasari kebenaran dalam tindakanya, puisi bisa menjadi sebuah kebanggaan jika sudah mengasilkan materi dan penghargaan atau sebuah pengakuan dengan diterbitkanya di media-media massa jika sudah demikian masih pantaskah disebuat puisi  lebih mendekati kebenaran dibandingkan dengan sejarah? Padahal puisi yang sebenarnya adalah do’a.
Surabaya 02.03.2013.5:46 AM

Seberapa Besar Perasaanmu Pada Ibumu?

Oleh : Toriq Fahmi


عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ
Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Ibu, sebuah nama yang sakral dan memiliki ruang tersendiri dalam bentuk cinta, kasih dan sayang. Semua akan merangkap menjadi suatu ungakapan rasa yang tak pernah dimengerti manusia. Kedudukannya mengalahkan apapun di dunia ini bahkan Tuhan pun berserah pada seorang ibu.Surga ada di telapak kaki ibu”. Ya, Tuhan menyerahkan surga pada seorang ibu. Itu berarti ibu memiliki bentuk ketuhanan tersendiri dalam perasaan manusia.

Apakah ibu berhak mendapatkan cinta seperti cinta seseorang kepada kekasihnya atau mendapatkan cinta layaknya cinta kepada Tuhan? Tidak. Karena perasaan itulah disebut sebagai sumber dari segala perasaan. Ketika aku mencintai ibu maka aku akan mencintai Tuhan. Ketika aku mencintai ibu maka aku mencintai wanita atau laki-laki, semuanya terlahir dari situ karena tuhan telah menaruh jari-jarinya pada wanita yang bernama ibu.

Sebuah pertanyaan besar akan datang ketika berbicara tentang cinta ibu, tak perlu susah payah menjawab pertanyaan “apa yang sudah kau perbuat terhadap ibumu?” karna sampai kapanpun seorang anak tidak akan mampu berbuat apa-apa terhadap ibunya, semua tidak akan pernah terbalaskan. tetapi yang perlu dipertanyakan adalah “seberapa besar perasaanmu pada ibumu?”,hatilah yang akan berbicara dalam bahasanya dengan berbagai macam bentuk entah itu puisi, lukisan, bingkisan atau hal-hal yang mengesankan yang membuat sosok ibu akan tertegun dengan tetes airmata haru dan bangga.

Begitu juga yang dirasakan oleh setiap penyair yang memiliki kedalam jiwa terhadap hal apapun yang dilihatnya bahkan benda mati sekalipun, karena itu puisi adalah kejujuran dan kebenaran sebuah perasaan. Benar kata Plato, “puisi lebih mendekati kebenaran dibandingakan dengan sejarah”. Karena itu kekuatan puisi itu tergantung pada kedalam perasaan seorang penyair kepada objek yang dituju, seperti halnya Zawawi Imron sebelum membacakan karyanya yang berjudul “Ibu” dia sempat mengatakan “jika saya membaca puisi ini tidak bagus maka saya adalah zawawi tetapi jika saya membaca puisi dengan bagus maka saya adalah anak ibu”. Di sinilah ketentuannya, kekuatan dan ketajaman dari puisi yang ditulis tergantung pada kedalaman perasaan yang dirasakan penyair terhadap ibunya.

Menulis puisi telah lama menjadi termometer cinta, kasih dan sayang bagi setiap penyair, jika penyair menuliskan puisi ibu maka perasaan terhadap ibunya akan dikuras habis, jika puisi yang ditulis terkesan monoton berarti begitulah perasaannya terhadap ibunya begitu juga sebaliknya. Maka permainkan perasaan dengan sehalus mungkin, ungkapkan rasa cinta itu ke dalam jiwa baru yang akan membangkitkan gairah dalam sebuah kehidupan penuh cinta seorang ibu.