Rabu, 25 April 2012

MENCARI-CARI

Sudahlama aku menyimpan kerinduan pada tasik berair biru
Jiwaku renta
Tubuhku tua
Aku berteman hampa menuggu padi menguning

Kemana? 
Oase di gurun pasir itu
Kemana? 
Tasik di padang rumput itu

Aku masih berkelana mengitari gelombang yang mendebur pada kunci kemarau
Peluhku menggaram
Pandanganku memburam
Cukuplah aku hidup dalam bayang ketidak pastian

Aku terkoyak gersang
Menjadi abu
Menjadi debu



Toriq Fahmi
Surabaya,260412
               







Senin, 16 April 2012

NO HOKI

Pada gumpalan darah nyawa berdesir liar. Berselimut tiga kegelapan dalam bait kuasa sang maha. Segumpal tanah tertiup nafas berlafat. Dalam sejengkal balai seluruh tubuh menggumam lirih, Allah…
Allah
                Allah
                                Allah
                                                Allah      AKU HIDUP
                    Allah
                Allah
Allah

HOKI
Pertanyaan luruh pada secawan darah
Mengalir
Mendesir
Membentuk  kata pada detak jantung yang bersyair
AKU HIDUP

Dunia menghardik
Cacat
                Cacat
Cacat
Kembalilah pada ketiadaan
Takdirmu gelap
Nasibmu kelam
“Hidup padaku sebagai kutu”



Toriq fahmi
surabaya,170412

Sabtu, 14 April 2012

Satu tubuh

Kun Fayakun
Nyawa berdesir pada gumpalan tanah berbentuk
Telanjang mengumam pada alam
 Hijau
 Biru
Putih   
Coklat lalu Menghitam

Abjad terputus pada hamparan laut berombak
kata terikat pada langit berawan
Setiap kalimat membekas pada tanah berjejak
Aku sepi, aku sunyi, aku pun bisu
Adam bersenggama di atas batu berukiran “MANUSIA”

Kun Fayakun
Adam di negeriku
Hawa di negaraku.

Garuda terikat di dinding pembatas
Memantulkan cahaya pada cermin
Menyilaukan parit berwarna hijau
Tak dapat menerawang. Buram, suram

Kun Fayakun
Di sini tempat bermain ulat
Di sini pesta para cacing

Tempat sejuk rumah berteduh
Suara air berseruling merdu
Menari segerombolan mahluk kecil tak bernama
Lumut, rumput semua bernyanyi

Kun Fayakun
Negeriku tanah
Negeriku laut

Serpihan pulau membentuk seperti puzzle
Kepala kecil riuh gemuruh bagai ombak
Berebut kemenangan untuk merangkai
Aku, aku, aku, cekekeh kecil membentuk kesatuan

Tubuh renta pasrah bergoyang dengan kursinya
Nampak keriput seluruh tubuh hasil perjuangan


Kun Fayakun
Tanahku suci
Airku jernih

Hembusan bayu menerpa penuh tentram
Tangan bercangkul bergumal dengan tanah
Tetes keringat mendesah bersama sawah
Panen, panen, panen senyum mengayun penuh damai

Kembang layar para pelaut siap mengais mangsanya
“Bes kholobes kuntul bares” sambil menarik jalanya

Kun Fayakun
Merah darahku
Putih tulangku

Kibaran keberanian mengangkat harkat
Lambaian kesucian menarik martabat
Aku pejuang hidup di atas tanah
Aku pahlawan mati di bawah tanah

Kun Fayakun
Aku api
Aku udara
Aku air
Aku petir
Aku tanah
Membakar, menghembus, menyiram, mengkilat, menimbun
Membentuk satu tubuh dalam raga tanah air

peksiminas. seleksi campus
Surabaya,140412
12:13 PM


Senin, 09 April 2012

DENGAN MENYEBUT NAMA PUISI


Alif_lam_mim. puisi Bernyawa
jalur air terbendung
terseok
tertatih
aku mengais Belukar


Alif_lam_rok. puisi Hilang
malam cahaya mengering
sepi
sunyi
aku tertanam Akar


Nun. puisi Tutup
hari tak bernama
kosong
kering
aku terbelenggu Sukar


Ya_sin. puisi Mati
kubur gelap takbertahlil
sesat
murtat
aku melayang Hambar




fahmi toriq
Surabaya.060412

Kamis, 05 April 2012

Kun fayakun, Abra kadabra

Kun fayakun, Abra kadabra

Bentuk mahluk serupa manungsa
Menungsa serupa mahluk berbentuk

jadi
jadi jadi
jadi jadi jadi
jadi
                                                    jadi            jadi jadi jadi jadi           jadi
                                                 jadi               jadi jadi jadi jadi               jadi
                                             jadi                   jadi jadi jadi jadi                 jadi
                                          jadi                      jadi jadi jadi jadi                    jadi
                                                              jadi                            jadi
                                                            jadi                                jadi
                                                          jadi                                    jadi
                                                        jadi                                        jadi
                                                       jadi                                            jadi

ada ada ada
ada ada
ada

kun fayakun
abra kadabra
tanah bernyawa

Toriq Fahmi
Surabaya,050412

Senin, 26 Maret 2012

POLOS

Singgah dibelantara malam
Pada gelap aku bertanya
Bencikah kau pada terang...?
Hampa takada suara...

Pagi aku berbisik...
Kala mentari tersenyum terang
Musuhkah gelap bagimu...?
Kosong  takbermakna...

Sial benar-benar menyebalkan
Semua bisu...
hanya angin yang menghujat walau takterlihat
“pertanyaanku sampah”

Aku takingin gelap
Aku juga benci terang
Lantas kemana...?
“Kubur  aku di tempat di mana gelap terlihat terang”
“jemur aku yang di mana terang terasa gelap”

Takada yang mengerti
Lantas apa gelap dan terang demikian...?
Pertanyaanya hanya akan kugantung pada kolong langit
Masa bodoh denganya

(asapku takberwarna)

Ha..ha..ha..
Ini kegilaanku karna ini kesukaanku
Kutumpahkan keluh pada huruf
Di mata sepetinya mereka telanjang
Mulailah mereka menakrikku ke ranjang

Aku suka huruf "W"atau huruf "V"
Sangat mengairahkan membuat konak melengkuh panjang
Aku mau...?
Tapi aku takut "B" membesar
"X" memangilku “oooohh betapa nikmatnya”

Aku telanjang ...
Aku mengeliat seperti cacing tanah
Panjang nafas tercekal pada detik menit
Aaah...eranganku bising mengusik tenag

Gelap dan terang bertekuk pada bawah selangkang..mampus..
Aaah...kembali mengerag panjang
Imajinasi pecah sadar jemari menggengam vital "P"
“Sial nyatanya aku sedang onani”


toriq fahmi
Surabaya.260312


Kamis, 09 Februari 2012

CORETAN KASIH DI DINDING “YAUMUL MARHAMAH”


(Valentine’day for the lover)

Apa arti hidup jika hanya mencari keletihan disetiap penjuru keadaan, kemunafikan menghakimi membuat semuanya sunyi, hal yang takpasti hanya memberi argumentasi taklayak dipandang “AKU BAIK”, hanya saja kepastian berkata aku termutilasi, terpotong menjadi kesetiaan-kesetiaan takberwujud, semua memberi cara “BEGINILAH HIDUP” tapi tetap saja jalanya sempit sampai-sampai semut saja takmampu melintas. Haruskah setiap hamba hanya tunduk pasrah pada takdir? Kalau begitu Tuhan akan tertawa dan mencela kau hamba takberguna.

bukan kebenaran yang aku bicarakan, ini hanya sekedar coretan, coretan yang hanya membuat rusuh dipagar-pagar rumah pingir jalan.

“CINTA” kata sakral yang datang bertubi-tubi menghujam gelisah kuasa ilahi, takperlu dicari karna semua menyadari adanya dan kuasanya, jika hamba tercipta hanya untuk tunduk dan sujud maka takhayal  jika perselingkuhan mengintim membuat lupa diri siapakah hamba ini? Kebosanan mengunjing disana-sini, itu tabiat manusia yang ada sejak lahir takperlu diteliti kebenaranya, karena semua ada ketika menyadari adanya, semua murtat seperti iblis yang sombong  enggan menempelkan dahi pada hamparan di depan Adam. Layakkah membangkang jika hanya seperti debu ditiup saja terhempas dan hilang tanpa jejak, pikiran tentang kekasih hanya akan mencoret dinding yang kata Nabi  “MARHAMAH” atau lebih tepatnya  “MAHABBAH”, entah keangkuhan apa yang membutakan jalan setapak menjadi buram. 

Tolong hapus kata “MAHABBAH” ganti dengan “MUSIBAH” jika hanya memujana 5waktu dalam sehari, sedang Iman menjelma hanya saat itu saja. AKU BERIMAN tolong diam saja jangan katakana itu yang berhak menilai hanya sang Cinta, kerasisan hanya akan menegelamkan kedalam neraka terdalam walaupun teriak sekencang-kencangnya “Muahammad, Muhammad, Muhammad” ia takkan memberI safaat, malah ribuan malaikat akan bergantian memecah kepalamu yang mati-hidup, mati-hidup.

Surga yang kata nabi “jika kamu membayangkan tentang itu maka bukan itu” filosofi yang belum terpecahkan sampai sekarang, itu bertanda bahwa dalam peribadahan takpatut berharap pamrih, jangan heran jika kata munafik mencampakkanmu dari surga kelak, surga bukan tempat orang-orang yang berharap timbal balik dari apa yang dilakukanya, tapi surga tempat para Nabi dan Sahabatnya yang keiklasanya melibihi aliran nafasnya, masi pantaskah disebut diri ini beriman? Tak perlu dijawab, jangan narsis jika keimananmu hanya seperti kotoran yang menempel di ujung kuku atau seperti gudal di gusi. Masi ingat kata dunia bahwa orang yang pintar adalah orang yang mengatakan dirinya bodoh, coba raba apa kata dunia tentang itu.
Ini bukan kebenaran, sekali lagi ini hanya coretan, coretan yang aku anggap ini nostalgia, nostalgiya cinta kepada sang pencipta, saat aku masih seberkas cahaya sebelum berdarah dan berdaging.

Aku takpernah mengigat waktu itu karena tentu saja pasti saat itu aku masih sangat suci sebab aku belum menjadi aktor yang terjun dalam persandiwaran, hanya saja aku masih dilatih di sanggar teater dan belum tersertifikat untuk pentas, entah kapan aku turun aku tak pernah sadar  tiba-tiba saja aku sudah berada di atas panggung ya..panggung itu bernama “DUNIA”, pangung yang benar-benar megah layaknya panggung yang menghabiskan miliaran rupiah. Uppss..maaf panging dunia takbernilai akgka tapi bernilai kuasa. Dalam persandiwaraan antagonis atau protogonis bermuara pada Aktor masing-masing, sebang Sutradara membebaskan Aktor berexperesi semaunya dan sesukanya hanya saja yang membangkan akan dilempar. 1..2..3..Exsien mulailah permainan, cintanya(Allah) akan meliputi setiap cinta yang mencintainya.
“Jalan Rosul adalah jalan cinta, kita adalah anak-anak cinta, cinta adalah ibu kita”, begitulah kiranya saat Jalaluddin Rumi bersyair tentang cinta.

Fahmi Toriq
Surabaya 021012. 01:34 AM